DetikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 30 Juli 2018, 12:00 WIB

Kolom

Punah dan Kotornya Uang 'Cash'

Hatib Kadir - detikNews
Punah dan Kotornya Uang Cash Ilustrasi: Nadia Permatasari/Tim Infografis
Jakarta - Tahun 2012 adalah momen ketika revolusi teknologi uang terjadi. Di tahun itu saya menyaksikan hampir semua transaksi di Amerika Serikat bersifat cashless. Salah satu daya pendorongnya sejak Apple mengeluarkan sistem iCloud yang dapat menampung demikian banyak data di komputer. Berbagai usaha start-up booming termasuk digitalisasi uang. Hal paling saya ingat ketika pertama kali tiba di Amerika pada tahun itu adalah orang minum kopi di Starbucks sudah tanpa menggunakan uang cash atau uang kontan lagi, namun dapat membayarnya dengan kartu debit.

Revolusi uang lainnya adalah setiap penumpang yang menggunakan jasa kereta api/subway yang menghubungkan kota San Fransisco ke stasiun kota besar lainnya tinggal mengetuk kartu di mesin-mesin stasiun. Kartu kereta tersebut dapat dibeli dengan kartu debit di kantor stasiun, dan jika jumlah uang di kartu habis, penumpang dapat mengisinya ulang. Penumpang tidak harus khawatir ketika kartu kereta itu hilang, karena uang di dalamnya tidak otomatis lenyap. Mereka tinggal mengurusnya dengan cara melakukan registrasi online dengan menunjukkan nomer akun dan identitas diri. Demikian juga yang terjadi dengan kartu debit . Jikapun hilang, uang di dalamnya masih terproteksi.

Lain cerita tatkala membawa uang cash dalam dompet. Jika hilang, hilanglah semuanya. Dengan menggunakan kartu-kartu yang disediakan oleh stasiun, supermarket semacam Saveway, Walmart, konsumen seringkali mendapatkan diskon dan bonus dibanding ketika berbelanja menggunakan uang cash. Hal ini karena kartu mencatat semua aktivitas belanja. Contohnya, jika berbelanja di Saveway dan mendapatkan bonus berupa secangkir kopi Starbucks dari receipt/nota belanja.

Berbeda dengan orang Indonesia yang mempunyai dompet tebal, orang Amerika pada umumnya mempunyai dompet tipis karena dompet hanya berisi identitas diri, kartu kredit/debit. Masyarakat Amerika tidak terlalu menggunakan uang cash karena banyak penawaran sistem pembayaran dalam bentuk debit card atau credit card, juga gift card, loyalty card, coupon, gift certificates, bahkan airline miles untuk melakukan penerbangan. Rata-rata memang tidak bisa diuangkan, sehingga pembelian harus pada barang atau jasa.

Dari beragamnya fungsi uang, yakni uang sebagai metode pembayaran (means of payment), sebagai penyimpan nilai (store of value), dan unit dalam mengukur nilai (measuring the value), revolusi terbesar terjadi pada metode uang sebagai alat pembayaran karena caranya terus mengalami perubahan. Sebagai alat bayar, uang pada saat ini beralih fungsi sebagai informasi. Ketika menerima gaji misalnya, kita tidak melihat uang kita karena langsung ditransfer di bank.

Tentu saja kita mempunyai pemahaman bagaimana uang tersebut kita hasilkan melalui kerja. Namun, setelah itu kita tidak ragu untuk meletakkannya di rekening bank dan sangat jarang melihat fisik uang tersebut. Kita hanya menerima cek atau receipt yang keluar dari mesin ATM. Sistem penggajian dan transfer check muncul dalam nomer-nomer imajiner yang tampil di layar dan kita sangat jarang melihatnya dalam bentuk kertas.

Ketika saya menerima beasiswa dan gaji dari kerja sebagai TA (teaching assistance), informasi pengiriman secara otomatis masuk ke rekening bank. Informasi ini disampaikan melalui notifikasi dalam email di mobile phone. Tapi, saya juga hampir tidak secara saksama mengeceknya karena saya percaya bahwa ia telah ada di sana. Pada beberapa pekerjaan dalam kampus yang bersifat volunteer, si penyedia kerja memberikan gift card yang dapatkan ditukarkan dengan benda-benda lain untuk membeli fasilitas yang disediakan oleh iTunes atau barang-barang di supermarket.

Revolusi Mobile Phone

Pertanyaan terpenting adalah bukan semata bagaimana kita membayar sesuatu dengan bantuan teknologi, namun selangkah maju, apa aspek-aspek moral filosofis dari pembayaran atau pembelanjaan ketika ia dihadapkan dengan teknologi baru. Permasalahannya, uang bukan sekadar teknologi. Ia adalah perluasan dari relasi antara kita dengan orang lain, dengan masa lalu dan masa depan dan dunia yang kita imajinasikan. Dengan kata lain, saya melihat uang lebih dari semata teknologi, melainkan ia diinfuskan dengan makna moralitas, jejak-jejak material dalam relasi antarmanusia.

Uang lebih dari sekadar alat tukar, karena ia dapat mengindekskan relasi, me-ranking, menciptakan clientele, social belonging, dan sanksi sosial. Pertukaran di pasar mempengaruhi sistem relasi sosial di luar pasar karena manusia mengkalkulasi sejumlah pembayaran atau pemberian yang pernah dilakukan.

Perubahan penggunaan uang dalam berbagai teknologi sebenarnya bertujuan untuk memudahkan fungsi uang yang bahkan ada sejak jaman Mesopotamia. Teknologi semacam mobile phone atau disebut juga hape membantu untuk memudahkan hal tersebut. Mobile phone saat ini tidak hanya untuk menelepon, namun mempunyai fungsi beragam. Pengiriman uang melalui mobile phone merupakan sesuatu yang revolusioner, setelah sebelumnya uang dikirim melalui telegram atau transfer bank yang membutuhkan waktu berhari-hari.

Di daerah terpencil dan bank sangat jauh, mempunyai mobile phone tentu saja sangat membantu dalam mengakses dasar jasa pelayanan keuangan. Transaksi uang dalam mobile phone juga jauh lebih mudah karena dapat ditelusuri jika hilang atau terkena fraud atau penipuan. Fungsi mobile phone saat ini tidak hanya untuk menghubungkan orang di seberang sana, namun juga untuk digunakan senter, mengecek email, melihat web page internet, mengunduh file dokumen, memainkan game, menonton film, mengambil gambar atau video, dan yang penting pula melakukan deposito dan pembayaran.

Uang cash juga mempunyai masalahnya tersendiri. Ada biaya penyimpanan, dan transfer mengubah uang elektronik ke uang cash membutuhkan biaya tidak sedikit, misalnya dalam transfer internasional yang paling terkenal Western Union. Selain pertukaran antarmata uang yang dinilai rendah, juga dikenakan biaya terhadap transfer uang cash. Tingginya biaya penggunaan uang cash menyebabkan berbagai inovasi dimunculkan oleh mobile phone. Mudahnya transaksi penggunaan uang sejak ada mobile phone sangat membantu orang dalam melakukan transfer dengan sangat murah dan cepat.

Evolusi Uang

David Graeber dalam bukunya Debt (2011) mensinyalir bahwa uang berasal dari apa yang disebut dengan "double co-incidence of wants". Ia muncul sebagai medium pertukaran yang dapat disepakati ketika seseorang tidak mempunyai barang yang disediakan pada orang lain yang membutuhkan atau sebaliknya, seseorang memberikan uang kepada orang lain ketika ia tidak mempunyai barang yang dibutuhkan.

Pada awalnya uang berbentuk gading (ivory) atau kulit kerang (shells) dianggap sebagai objek-objek yang bernilai. Ketika ia beralih bentuk dalam ke koin atau kertas, nilai dari barang sesungguhnya ditampilkan dalam angka nominal kertas. Sejak saat itulah muncul yang namanya token, di mana nilai uang ditampilkan bukan lagi dalam bentuk objek, namun dalam bentuk angka. Hanya dengan emaslah, sebenarnya uang berhenti merepresentasi nilainya, karena emas adalah benda yang merepresentasi nilainya sendiri tergantung kadar dan berat.

Tampilan uang selalu mengalami proses evolusi, dari awalnya berbentuk barter, kemudian ke kulit kerang, ke koin, ke kertas, ke plastik, dan kini dalam bentuk elektronik. Berbagai bentuk uang muncul ketika manusia mengalami surplus barang dalam berbagai bentuknya. Mereka kemudian memperdagangkan barang tersebut dan menentukan nilai dengan bentuk barang lainnya.

Penggunaan uang elektronik bukan seperti penemuan pesawat terbang yang canggih, namun sebenarnya ada hal yang tetap dalam uang. Ia merupakan konvensi, kesepakatan dan seperangkat relasi dalam organisasi yang kompleks di masyarakat. Nilai dan fungsinya tetap sama. Relasi yang saya maksud di sini termasuk teknologinya, perangkat hukum dan regulasinya, serta aparatus organisasi dan komunikasinya yang membuat uang muncul dalam bentuknya yang beragam. Evolusinya adalah karena ia lebih efisien, dalam artian efisien yakni speed atau kecepatan ketika kita membutuhkan dan melakukan transaksi sangatlah kencang.

Revolusi terhadap uang justru mengikuti perkembangan teknologi. Uang tidak berubah karena uang itu sendiri namun faktor lainnya yang menentukan. Pembayaran uang yang dulunya dilakukan cash, sekarang menggunakan kartu. Sejak inovasi yang dilakukan iPhone dengan menempatkan semua aktivitas transaksi dalam satu mobile phone, berbagai uang digital untuk membayar pemesanan transportasi, listrik, air, dan segalanya terletak dalam satu telepon saku. Demikian pula, semua model jasa komunikasi dapat dilakukan dengan pembayaran digital. Googlewallet, Pay Pass dari Master Card, iPhone 6 yang menggunakan sistem Apple Pay, semua teknologi ini memungkinkan orang mentransfer uangnya dengan sidik jari, kamera, dan si penerima uang menerima hanya dalam hitungan detik.

Swastanisasi Uang

Bitcoin merupakan awal dari fenomena di mana uang sekarang bisa diciptakan dan dijalankan oleh pihak swasta setelah kurang lebih 150 tahun uang dikendalikan oleh negara. Bitcoin pada awalnya berkembang pada 2008 setelah krisis Amerika. Bitcoin ini bertujuan untuk menawarkan mata uang alternatif selain dikeluarkan dari bank. Seperti Twitter misalnya, Bitcoin tidak dikendalikan oleh sentral otoritas melainkan oleh kebijakan keramaian (wisdom of crowd).

Meskipun uang elektronik mudah penggunaannya, ia masih merepresentasi mata uang negara, sedangkan nilai Bitcoin berdasarkan unit-unit dalam transaksi. Nilai unitnya tidak didukung oleh ekuivalensi mata uang negara melainkan berdasarkan fluktuasi permintaan. Bitcoin dirilis oleh komunitas yang ikut berpartisipasi dalam sistem tersebut. Sedangkan infrastruktur pembayaran didasarkan pada database di internet. Semua transaksi Bitcoin tersimpan dalam database yang disebut blockchain yang didistribusikan kepada semua partisipan dalam sistem ini.

Untuk menghindari penipuan karena uang tidak lagi berbentuk fisik, melainkan unit akun, laporan transaksi didesentralisasi pada tiap-tiap jaringan. Tiap partisipan dapat mengunduh blockchain ke dalam masing-masing komputer. Hal ini berbeda dengan sistem uang zaman Mesopotamia misalnya, di mana laporan transaksi tersimpan dalam satu store-house atau gudang yang terpusat. Di Bitcoin, setiap orang dapat menilai nilai transaksi yang dipertukarkan, meskipun identitas pihak yang melakukan transaksi adalah quasi anonymous, tidak begitu dikenal, atau dapat menggunakan nama samaran.

Evolusi uang hingga menjadi digital seperti sekarang ini, saya simpulkan bahwa; pertama, uang bukanlah barang, melainkan kualitas nilainya dihasilkan dari proses relasi sosial. Pendirian uang mungkin karena adanya relasi kepercayaan (trust). George Simmel, seorang sosiolog Jerman dalam bukunya The Philosophy of Money (1900) berpendapat bahwa bahwa uang bukan makhluk yang diciptakan oleh Nngara, melainkan ia menyebutnya sebagai hasil dari "sociation" relasi sosial. Pandangan ini akan sesuai dengan apa yang sekarang terjadi. Era di mana uang diciptakan oleh negara telah mengalami masa senjanya.

Komunitas-komunitas kecil mulai menemukan cara menciptakan dan mengorganisir uang, seperti kasus HOURS di Ithaca, Cornell. HOURS atau terjemahannya 'jam' merupakan mata uang yang disetarakan dengan rata-rata upah buruh per jam di Amerika Serikat, yakni 10 dolar AS. Selain itu terdapat pula Bitcoin, yang diciptakan oleh anonymous dengan sistem jejaring komputer seperti yang saya ceritakan di atas. Uang, dengan demikian, sebagai proses mempunyai nilai "tekno utopia" dan kapitalisasi. Yang saya maksud dengan utopia di sini adalah teknologi mengimajinasikan uang tanpa mengacu pada satu tempat (non place). Seperti Bitcoin, ia tidak mengacu pada mata uang negara tertentu. Pasar beroperasi secara otonom di luar kendali politik dan bukan politik bank sentral melainkan mesin yang menggerakkannya.

Kedua, upaya kapitalisasi uang dilakukan oleh industri pembayaran yang menawarkan infrastruktur mata uang alternatif yang dimunculkan oleh Amazon, Paypal, Google, Apple Pay, Square seperti yang saya alami sejak masuk Amerika pada 2012. Swastanisasi uang lahir dari rahim demokrasi liberal. Bukan hanya Bitcoin, beberapa perusahaan semacam Amazon menawarkan kartu bonus (gift card) yang mempunyai nilai uang muncul dari double conicides of wants di mana tidak semua orang mempunyai keinginan yang sama, seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Demokrasi liberal membuka terbukanya fenomena "monetary pluralism" atau "monetary multiplicities" di mana desain segala jenis bentuk uang sebagai pertukaran tidak dapat dihindarkan. Fenomena pluralisasi uang sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Jika merujuk pada sejarah uang, ada begitu banyak jenis atau bentuk uang yang beredar. Dari kulit kerang hingga koin. Namun demikian, pandangan pluralisasi uang ini tidak akrab di telinga kita karena selama ini kita menerima begitu saja bahwa uang seharusnya mengacu pada nasionalisme mata uang yang bersifat tunggal, dan membosankan.

Kotornya Uang Cash

Uang cash pada saat ini masuk dalam kategori buruk dan kotor. Pertama, kotor (filthy) secara harfiah karena uang mengandung kuman dan bakteri dari berbagai tangan yang telah memegangnya. Di Amerika, uang-uang cash receh yang berserakan di dalam kamar, kadang di atas lemari, saku celana, di atas meja kerja, seringkali saya berikan ke homeless atau para peminta-minta di jalan. Selain itu, uang cash lainnya saya gunakan untuk berbelanja di pasar bekas atau flea market.

Pasar ini bagi sebagian orang kulit putih dianggap kumuh karena didominasi oleh para kaum migran latino atau kelas bawah yang belanjanya mengandalkan subsidi Electronic Benefit Transfer (EBT). Dengan kartu EBT tersebut, mereka hanya diperbolehkan membeli bahan makanan non masak, seperti sayur dan buah. Sisanya konsumen menggunakan uang kas untuk berbelanja shampo dan sabun. Bagi orang kulit putih, mereka enggan menyambangi pasar-pasar ini bukan saja karena lokasinya yang dianggap kumuh, tapi juga penggunaan uang cash yang masih dominan dianggap mencerminkan kekumuhan tersebut.

Kedua, uang cash kotor karena penggunanya adalah mereka yang melakukan korupsi. Jika Anda perhatikan, ada begitu banya laporan para koruptor dan pelaku suap yang mentransfer uang kontan di dalam karung atau koper. Demikian pula, suap kepada para konstituen selama masa kampanye pilkada dilakukan dengan menyebarkan uang kontan. Saya seringkali mendengar bagaimana para kontenstan politik membagi-bagikan uang cash selama masa kampanye di kepulauan-kepulauan kecil di Maluku Utara. Para warga tidak hanya menerima uang cash dari satu kontestan, namun dari berbagai kontestan dengan latar belakang partai politik yang beragam. Dengan cara ini, pelaku korupsi dan suap terlepas dari segala catatan digital yang dapat menyeretnya ke hotel prodeo.

Hatib Kadir dosen antropologi Universias Brawijaya

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed