DetikNews
Selasa 21 Februari 2017, 13:56 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Piknik sebagai Gizi di Masa Pertumbuhan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Piknik sebagai Gizi di Masa Pertumbuhan (dokumentasi pribadi/Foto: Teuku Hairunis)
Perth - Siang itu panas menyengat. Sekeluar dari Dolphin Discovery Centre, kami buru-buru masuk mobil. Saking buru-burunya, anak kami Hayun membuka pintu terlalu lebar, dan... dhuakk! Pintu mobil yang ia buka membentur mobil lain yang parkir di sebelah.

Segera saya menengoknya. Ya ampun, cat merah bagian samping Mazda mulus itu mengelupas agak dalam. Saya dan istri pun sebentar berbantahan. Mau langsung jalan saja, apa gimana? Toh sebenarnya, mobil kami sendiri pun beberapa kali menjadi korban kasus serupa, dan kami biarkan saja karena tak parah amat.

Tapi saya kira ini beda. Mobil kami tua, sedangkan Mazda di sebelah itu masih kinclong. Andai kami yang punya mobil kinclong, dan dihantam sampai nglotok gitu, gimana rasanya? Itu satu. Kedua, kami sedang berjalan-jalan, jauh dari Perth. Sementara, kami menempatkan jalan-jalan sebagai sarana untuk belajar banyak hal. Maka, semestinya kecelakaan kecil barusan pun disikapi dalam kerangka belajar.

Segeralah saya mengambil kertas dan bolpen, lalu saya tuliskan di sana permintaan maaf pendek, pernyataan kesiapan mengganti biaya perbaikan, berikut nomor HP kami agar si empunya mobil bisa mengontak buat minta transferan.

Sembari itu, ini yang lebih penting. Hayun kami nasihati ini-itu. Agar lain kali lebih berhati-hati, itu pasti. Namun di atas itu, anak kami harus belajar menjadi manusia. Harus menumbuhkan rasa bersalah di hatinya karena telah merugikan orang lain, yang tentu saja disusul dengan kesiapan untuk bertanggung jawab. Tak lupa, kami juga memberikan penekanan, semacam "Sebenarnya yang punya mobil nggak lihat kita, Nak. Nggak tahu siapa yang bikin mobilnya rusak, nggak tahu juga kita tinggal di mana. Tapi kita tetap harus bertanggung jawab, karena kita memang salah. Ini kertas kita tempel di kaca mobil orang itu ya, biar nanti dia bisa nelpon kita..." Dan seterusnya.

Tersesat adalah bagian dari perjalanan, kata Agustinus Wibowo, traveler kondang itu. Saya kira, kecelakaan (asal yang kecil-kecil saja lho ya hehehe) pun bisa kita sikapi sebagai bagian perjalanan. Dari perjalanan kita bisa mengambil banyak pelajaran, sekaligus mentransfer pelajaran itu kepada anak-anak yang karakternya sedang kita tumbuh kembangkan.

***

Entah mulai kapan, belakangan ini banyak orang tergila-gila dengan jalan-jalan. Akun-akun Instagram penuh dengan foto orang bepergian. Tempat-tempat indah yang selama ini tak cukup diketahui orang, kini ramai dikenal. Badai media sosial membuat orang kecanduan selfie, dan dari kebiasaan selfie-selfie itu mereka bersemangat menunjukkan tempat-tempat jauh yang berhasil dijelajahi. Lantas terjadilah saling bertukar kabar, hingga di mana-mana merebak virus jalan-jalan.

Tentu ini baik untuk industri wisata. Namun yang tak kalah baiknya, hobi yang mewabah ini menjadi satu lagi alternatif dalam menyediakan ruang-ruang pendidikan untuk anak-anak kita.

Keluarga kecil kami pun termasuk penggila jalan-jalan. Berkali-kali nasihat datang dari orangtua maupun saudara agar saya menabung, menginvestasikannya untuk aset ini dan itu. Tapi, ya Tuhan, kalau sudah membayangkan membelanjakan hasil tabungan buat jalan-jalan, dada ini rasanya berdentam-dentam hahaha.

Tidak harus biaya tinggi untuk jalan-jalan, sebenarnya. Kami ingat, cukup dengan hasil tabungan 4 juta rupiah, kami bertiga sudah bisa keliling Kuala Lumpur dan Melaka saat Hayun masih berumur 3 tahun. Dengan anggaran yang cekak, justru itu bisa menjadi sarana mengajarkan nilai-nilai kepada anak-anak. Agar anak belajar berhemat dan bekerja keras, misalnya. Menginap di penginapan murah, makan tak perlu mewah, bahkan kalau perlu menghemat ongkos transportasi jika destinasi yang dituju bisa terjangkau dengan berjalan kaki. Dengan begitu, selain langsung paham artinya berhemat, anak pun secara 'instan' akan langsung mengerti betapa kerja keras bisa membuahkan hasil yang menyenangkan. Coba lihat bagaimana ekspresi mereka, saat menemukan tempat bermain yang mengasyikkan, setelah mengayunkan langkah selama berjam-jam.

Selama di Perth sini kami menemukan varian lain lagi dalam aktivitas jalan-jalan, sebab ada banyak tempat berkemah dan caravan park. Kalau biasanya untuk perjalanan ke sebuah tempat kami menginap di hotel yang menyedot biaya 100 dolar permalam, maka di camp site kami cukup keluar ongkos 45 dolar. Itu sudah lengkap dengan air, toilet umum, dan colokan listrik. Berhemat sudah pasti, apalagi kami membawa bekal makanan hingga beras dan penanak nasi. Namun selain itu, anak kami belajar berkompromi dengan kondisi. Tidur di tempat seadanya, kalau hujan ya kena rembesan air, kalau pas badai ya kena bocoran embusan angin.

Jalan-jalan juga bisa menjadi ruang untuk mengajari anak dalam mencintai alam. Bukan sekadar agar anak mengenali makhluk hidup, dan mengenali bentangan gunung, pantai, serta sungai-sungai. Anak juga sangat bisa diajak berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Saya ambil satu contohnya. Sehari setelah kejadian benturan pintu mobil di parkiran Dolphin Discovery Centre, kami tiba di Canal Rocks. Itu adalah bukit batu di tepian pantai, sekitar 250 km sebelah selatan Perth. Hayun sangat suka mengumpulkan cangkang-cangkang kerang. Di mana pun ia lihat benda-benda itu, beberapa sampelnya pasti ia kumpulkan.

Di pantai ini, ternyata ia menemukan cangkang yang masih ada isinya. Nah, di momen seperti inilah kami jadi punya kesempatan untuk menjelaskan, bahwa kerang hidup harus dikembalikan ke habitatnya. Hayun cuma butuh cangkangnya, untuk membikin aneka kerajinan tangan. Ia tidak butuh makhluk di dalamnya. Ia harus paham bahwa tak perlu kita membunuh makhluk hidup jika hanya untuk bersenang-senang.

Setelah melemparkan kembali kerang hidup itu ke pantai, Hayun kami ajak mengurusi cangkang-cangkang lain. Tapi kali ini bukan cangkang kerang, melainkan cangkang alias kaleng bekas minuman. Di sela gundukan bebatuan di pantai yang cantik, kaleng-kaleng tergeletak dibuang sembarangan. Lekas kami ajak ia mengumpulkan beberapa sampah kaleng, agar dibawa ke tempat yang sebenarnya telah disediakan.

Sepele, tampaknya. Tapi coba, ada berapa nilai yang bisa dipelajari dan dipraktikkan anak kami di Canal Rocks? Mencintai alam, itu sudah jelas. Sadar kebersihan, itu kemudian. Selain itu, Hayun juga belajar menyayangi makhluk hidup, menjaga keseimbangan alam, dan yang paling saya sukai dari kejadian itu adalah ia melatih diri berbuat kebaikan tanpa imbalan.

Masih ada deretan panjang peluang lain untuk menjalankan pendidikan karakter bagi anak-anak lewat jalan-jalan. Cobalah, misalnya, menginap di rumah warga lokal lewat Airbnb. Dari situ lagi-lagi bukan cuma pengiritan yang bisa didapat, namun juga pengalaman anak dalam mengenali perbedaan budaya, belajar memahami bahwa banyak orang tak sama selera makanannya dengan kita, bahkan banyak orang tak sama keyakinannya dengan keyakinan kita.

Dalam masyarakat kita, banyak orangtua memilih menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang murid-muridnya seagama saja. Mereka pun tinggal di kompleks 'tematik' yang warganya juga satu agama saja. Lalu bagaimana anak-anak akan bisa memahami bahwa diri mereka tak hidup sendirian saja di dunia?

Maka, ajaklah anak berjalan-jalan. Pendidikan karakter tidak bisa kita limpahkan semata kepada sekolah, pengajian Jumat sore di masjid kampung, atau tempat kursus renang dan piano. Orangtualah pemegang kuncinya. Persoalannya, kesempatan untuk menemukan peristiwa demi peristiwa bakalan sangat terbatas manakala interaksi anak dan orangtua hanya berjalan di rumah saja, apalagi dengan nilai-nilai yang diajarkan sebatas bibir belaka.

Maka, sekali lagi, ajaklah anak-anak berjalan-jalan. Mereka harus dibawa keluar, menjelajah, menjauh dari cangkang. Tak cuma agar anak-anak mengenal tempat-tempat yang indah dan berbeda. Namun yang lebih penting lagi adalah menanamkan sikap mental, agar mereka lebih mencintai pengetahuan dan pengalaman, daripada sekadar barang-barang.

*) Iqbal Aji Daryono adalah praktisi media sosial, penulis buku "Out of The Truck Box". Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi.
*) Artikel ini adalah pandangan pribadi penulis, bukan merupakan pandangan redaksi detikcom.
(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed