Jutaan warga Israel menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatif yang berlangsung sengit pada Selasa (27/10) waktu setempat. Kelompok Houthi memberikan reaksi keras atas keputusan parlemen Mesir yang menyetujui dukungan militer untuk Arab Saudi.
Pemilu Israel ini berpotensi mengakhiri masa kekuasaan panjang Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, atau justru membuat negara Yahudi itu kembali mengalami kebuntuan politik.
Sementara itu, Houthi menyebut keputusan Kairo untuk memberikan dukungan militer bagi Riyadh sebagai "deklarasi perang".
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Selasa (27/10/2026):
- Pemilu Digelar, 7,3 Juta Warga Israel Akan Tentukan Nasib Netanyahu
Jutaan warga Israel akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatif yang berlangsung sengit pada Selasa (27/10) waktu setempat. Pemilu ini berpotensi mengakhiri masa kekuasaan panjang Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, atau justru membuat negara Yahudi itu kembali mengalami kebuntuan politik.
Ada prediksi bahwa tidak satu pun blok utama politik yang mampu meraih mayoritas kursi dalam parlemen untuk membentuk pemerintahan baru.
Pemungutan suara ini merupakan pemilu pertama di Israel sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang diikuti oleh rentetan serangan tanpa henti militer Tel Aviv terhadap Jalur Gaza, juga konfrontasi militer dengan Hizbullah di Lebanon dan dengan Iran.
- Warga Inggris Diminta Stok Makanan dan Air, Bersiap Perang dalam 1.000 Hari
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyatakan warga Inggris harus bersiap menghadapi perang dalam 1.000 hari ke depan. Hal itu disampaikan seiring imbauan pemerintah kepada warga Inggris untuk menimbun makanan kaleng dan air minum kemasan.
Dilansir Independent dan Anadolu Agency, Selasa (27/10/2026), Streeting dalam tulisannya di surat kabar The Telegraph memperingatkan bahwa pihak-pihak yang memusuhi Inggris mungkin akan siap melancarkan serangan pada tahun 2030.
"Keinginan pihak lawan untuk mencelakai kita bukanlah hal baru. Yang telah berubah adalah kapasitas mereka. Menjelang tahun 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk melakukan serangan," tulis Streeting.
(nvc/nvc)