Pemilu Digelar, 7,3 Juta Warga Israel Akan Tentukan Nasib Netanyahu

Pemilu Digelar, 7,3 Juta Warga Israel Akan Tentukan Nasib Netanyahu

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 27 Okt 2026 10:28 WIB
A man walks past an election billboard for the Likud party led by Israels Prime Minister Benjamin Netanyahu in Jerusalem on October 25, 2026, ahead of the legislative election. Israel heads to the polls on October 27 in its first election since the October 7, 2023 Hamas-led attack, in what is seen as a referendum on the prime minister. (Photo by AHMAD GHARABLI / AFP)
Billboard kampanye Partai Likud yang menaungi Netanyahu terlihat di Yerusalem menjelang pemilu Israel (AFP/AHMAD GHARABLI)
Tel Aviv -

Jutaan warga Israel akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatif yang berlangsung sengit pada Selasa (27/10) waktu setempat. Pemilu ini berpotensi mengakhiri masa kekuasaan panjang Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, atau justru membuat negara Yahudi itu kembali mengalami kebuntuan politik.

Ada prediksi bahwa tidak satu pun blok utama politik yang mampu meraih mayoritas kursi dalam parlemen untuk membentuk pemerintahan baru.

Pemungutan suara ini merupakan pemilu pertama di Israel sejak serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang diikuti oleh rentetan serangan tanpa henti militer Tel Aviv terhadap Jalur Gaza, juga konfrontasi militer dengan Hizbullah di Lebanon dan dengan Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini juga menjadi pemilu pertama yang digelar tepat waktu di Israel sejak tahu 1988, setelah selama beberapa dekade pemerintahan yang berkuasa silih berganti runtuh sebelum menuntaskan masa jabatan selama empat tahun.

Pemungutan suara, seperti dilansir Anadolu Agency dan AFP, Selasa (27/10/2026), akan dimulai pukul 07.00 pagi waktu setempat dan ditutup pada pukul 22.00 malam waktu setempat. Hari pemilu ditetapkan sebagai hari libur nasional di Israel.

ADVERTISEMENT

Terdapat total 12.018 tempat pemungutan suara (TPS) di berbagai wilayah, dengan sekitar 18.000 kotak suara disiapkan di seluruh negeri.

Sekitar 7,3 orang yang memiliki hak pilih yang sah, termasuk kurang lebih 1,2 juta warga Israel keturunan Palestina, akan menggunakan hak suara mereka dalam pemilu legislatif ini. Lebih dari setengah juta pemilih di antaranya merupakan pemilih muda yang akan memberikan suara untuk pertama kalinya.

Puluhan ribu warga Israel diperkirakan telah terbang dari luar negeri untuk berpartisipasi dalam pemilu yang dianggap krusial bagi penentuan masa depan negara tersebut.

"Saya rasa ini adalah salah satu hari pemilu terpenting dalam sejarah negara Israel. Negara ini jelas membutuhkan perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala aspek," kata Uriel Brandler, seorang agen real estate berusia 58 tahun, kepada AFP di Yerusalem sebelum pemungutan suara digelar.

Sebanyak 37 partai dan daftar elektoral bersaing untuk memperebutkan kursi parlemen di Knesset yang beranggotakan 120 orang. Untuk membentuk koalisi pemerintahan, diperlukan dukungan dari setidaknya 61 anggota parlemen.

Berdasarkan sistem perwakilan proporsional yang diterapkan Israel, para pemilih memberikan suara untuk partai, bukan untuk kandidat individu. Setiap partai harus memperoleh setidaknya 3,25 persen dari total suara sah agar dapat masuk ke parlemen.

Sepanjang sejarah politik Israel, belum pernah ada satu partai pun yang berhasil meraih mayoritas mutlak di Knesset. Negosiasi koalisi menjadi faktor penentu dalam menentukan siapa yang akan menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Israel.

Begitu tempat pemungutan suara ditutup, hasil exit polls diperkirakan akan segera muncul. Hasil resmi secara awal akan mulai bermunculan sepanjang malam, meskipun penghitungan suara dari personel militer, rumah sakit, penjara, dan tempat pemungutan suara khusus lainnya akan memakan waktu beberapa hari.

Hasil resmi akhir pemilu Israel dijadwalkan untuk diumumkan paling lambat 4 November.

Kubu Oposisi Ungguli Koalisi Netanyahu di Jajak Pendapat

Jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan menunjukkan bahwa Netanyahu (77), PM dengan masa jabatan terlama di Israel, bersaing ketat dengan rival utamanya, Gadi Eisenkot (66), mantan kepala militer Israel yang merupakan pendatang baru di politik. Eisenkot yang dikenal memiliki pembawaan tenang, dianggap sebagai antitesis Netanyahu.

Jajak pendapat yang dipublikasikan tiga televisi utama Israel menempatkan Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot unggul atas Partai Likud yang menaungi Netanyahu. Yashar diproyeksikan meraup 22-23 kursi parlemen, dibandingkan Likud yang diproyeksikan meraup 19-21 kursi parlemen.

Koalisi oposisi B'Yachad yang dipimpin mantan PM Naftali Bennett dan Yair Lapid, diproyeksikan meraup 14-15 kursi parlemen. Partai-partai oposisi lainnya mencakup Partai Demokrat yang dipimpin mantan jenderal Yair Golan dan Partai Yisrael Beytenu yang dipimpin mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman.

Berdasarkan ketiga jajak pendapat itu, koalisi sayap kanan dan religius Netanyahu diproyeksikan meraup total 50 kursi parlemen, sedangkan kubu oposisi diproyeksikan akan mengamankan total 52-56 kursi parlemen.

Gadi Eisenkot, mantan kepala militer Israel menjadi penantang utama NetanyahuGadi Eisenkot, mantan kepala militer Israel menjadi penantang utama Netanyahu Foto: AFP/JACK GUEZ

Partai-partai yang dipimpin oleh tokoh dan politisi keturunan Palestina, yang bisa menjadi pemecah kebuntuan, diproyeksikan meraup total 14-16 kursi parlemen.

Proyeksi jajak pendapat itu menunjukkan baik Netanyahu maupun Eisenkot tidak memiliki jalan yang jelas untuk mencapai ambang batas 61 kursi parlemen yang dibutuhkan untuk bisa membentuk pemerintahan. Memenangkan jumlah kursi parlemen terbanyak tidak secara otomatis menentukan siapa yang akan menjadi PM.

Presiden Israel Isaac Herzog akan berkonsultasi dengan partai-partai terpilih sebelum menugaskan pembentukan pemerintahan kepada anggota parlemen yang dianggap paling mampu menggalang dukungan mayoritas di parlemen.

Netanyahu Berjuang Demi Kelangsungan Karier Politiknya

Netanyahu berupaya meraih masa jabatan lagi setelah mejabat sebagai PM selama lebih dari 18 tahun dalam tiga periode terpisah. Kampanyenya sangat berfokus pada keamanan nasional, dengan dia menonjolkan pengalaman dan kebijakan militer sebagai hal krusial untuk menghadapi ancaman regional.

Namun Netanyahu menghadapi kritikan terkait kegagalan pemerintahannya dalam mencegah serangan Hamas 7 Oktober 2023, juga terkait cara menangani konflik yang menyusul setelahnya, serta penolakannya terhadap pembentukan komisi penyelidikan independen untuk mengusut kegagalan keamanan itu.

Dia juga tengah diadili atas rentetan tuduhan korupsi, yang telah dia bantah, dan menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait tuduhan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza.

Tonton juga video "Netanyahu: Trump Bilang Akan Kerja Sama dengan Saya dan Hanya Saya"

Halaman 2 dari 2
(nvc/dhn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini