Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengecam serangan kelompok Houthi terhadap bandara di Riyadh, Arab Saudi, yang merenggut belasan nyawa. Kecaman ini disampaikan Netanyahu meskipun Israel tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Saudi.
Netanyahu, seperti dilansir AFP, Senin (12/10/2026), mengecam serangan Houthi terhadap Saudi itu sebagai "serangan teroris yang mengerikan".
"Saya mengecam keras serangan teroris yang mengerikan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh," tulis Netanyahu dalam pernyataan via media sosial X pada Minggu (11/10).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia juga menyampaikan "belasungkawa yang mendalam" dari Israel kepada keluarga para korban dalam serangan mematikan itu.
Koalisi pimpinan Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman dalam memerangi Houthi, menuduh kelompok Houthi mendalangi serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10) dan Minggu (11/10) waktu setempat.
Sedikitnya 13 orang tewas dan lebih dari 300 orang lainnya luka-luka akibat serangan pada Sabtu (10/10), sedangkan sedikitnya satu orang tewas dan 11 orang lainnya luka-luka pada Minggu (11/10) waktu setempat.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menggambarkan serangan itu sebagai "serangan teroris pengecut yang dilakukan oleh milisi teroris Houthi". Dia juga mengatakan bahwa serangan yang menargetkan fasilitas sipil tersebut "merupakan kejahatan perang sepenuhnya".
Ditegaskan Al-Maliki bahwa Saudi "akan memberikan respons tegas terhadap serangan teroris ini".
Gelombang kecaman menghujani Houthi menyusul serangan terhadap bandara Riyadh tersebut. Salah satunya dari Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, yang menegaskan bahwa "serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran hukum internasional".
"Serangan-serangan ini harus segera dihentikan," ujar Guterres.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan reaksi keras, dengan membuka peluang AS bergabung dengan Saudi untuk melancarkan serangan terhadap Houthi.
"Mungkin saja. Kami sedang meninjaunya," kata Trump mengenai peluang AS bergabung dengan Saudi menyerang kelompok Houthi. "Kami baru saja mengetahui serangan terbaru (di bandara). Jadi kami akan membuat keputusan, kami bergerak sangat cepat," sambungnya sebagaimana dikutip CBS, mitra BBC di AS.
Menurut otoritas penerbangan sipil Saudi, terdapat sejumlah warga negara asing di antara korban tewas dalam serangan Houthi tersebut, mencakup dua warga Bangladesh, kemudian masing-masing satu warga AS, warga Mesir, warga Yordania, warga Suriah, warga Palestina, dan warga Sudan.
Iran Tawarkan Jadi Penengah Konflik Arab Saudi vs Houthi
Secara terpisah, Iran menyatakan "sangat prihatin" atas eskalasi serangan antara Saudi dan Houthi, yang didukung negara itu. Teheran mendesak kedua pihak untuk menyelesaikan konflik melalui dialog dan menawarkan diri sebagai mediator.
Dalam percakapan telepon dengan Menlu Saudi, Pangeran Faisal bin Faran Al Saud, seperti dilansir AFP, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, "bersikeras pada pendekatan militer" dan memperingatkan bahwa "mengabaikan solusi politik akan semakin memperumit situasi saat ini".
Dia mengatakan bahwa Teheran siap membantu untuk "memulai dialog antara Arab Saudi dan Yaman, dan memfasilitasi tercapainya solusi politik".
Lihat juga Video: Duka Keluarga Palestina Kenang Korban Tewas Serangan Houthi di Bandara Riyadh










































