Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan harapannya agar perang melawan Iran akan segera berakhir. Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte disebut mengalami gangguan ingatan yang parah, yang membuatnya terkadang lupa nama pengacaranya sendiri.
Trump mengklaim bahwa Teheran telah menghubungi Washington "secara langsung" dan ingin mencapai kesepakatan.
Sementara itu, Duterte yang kini berusia 81 tahun, untuk pertama kalinya hadir dalam persidangan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), untuk menghadapi dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait kebijakan "perang melawan narkoba" yang dikobarkannya di Filipina.
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (17/9/2026):
- Sebut Iran Inginkan Kesepakatan, Trump: Kita Lihat Gimana Hasilnya Nanti
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan harapannya agar perang melawan Iran akan segera berakhir. Dia mengklaim bahwa Teheran telah menghubungi Washington secara langsung dan ingin mencapai kesepakatan.
Ketika ditanya oleh wartawan soal bagaimana dirinya menggambarkan fase perang yang sedang dihadapi AS, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Kamis (17/9/2026), Trump menjawab: "Ya, semoga kita sudah mendekati akhir perang."
Dia kemudian menyebut bahwa Iran ingin mencapai kesepakatan dengan AS. Pernyataan ini sudah beberapa kali disampaikan Trump selama perang berkecamuk.
- Diadili ICC, Eks Presiden Duterte Alami Gangguan Ingatan Parah
Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte disebut mengalami gangguan ingatan yang parah, yang membuatnya terkadang lupa nama pengacaranya sendiri. Hal ini terungkap dalam persidangan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang digelar di Den Hag pada Rabu (16/9) waktu setempat.
Duterte yang kini berusia 81 tahun, seperti dilansir AFP, Kamis (17/9/2026), untuk pertama kalinya hadir dalam persidangan sejak pertama kali dipindahkan ke ICC sekitar 18 bulan lalu, untuk menghadapi dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait kebijakan "perang melawan narkoba" yang dikobarkannya di Filipina.
Jaksa penuntut ICC menyebut kebijakan Duterte itu telah merenggut ribuan nyawa.
(nvc/nvc)