Iran dan AS Saling Lempar Ancaman

Iran dan AS Saling Lempar Ancaman

Haris Fadhil - detikNews
Rabu, 09 Sep 2026 05:47 WIB
Ilustrasi rudal. (Reuters)
Ilustrasi rudal. (Reuters)
Jakarta -

Perang yang dimulai oleh Amerika Serikat (AS) di Iran tak kunjung usai. Kini, AS dan Iran kembali saling melontarkan ancaman.

Dirangkum detikcom, Selasa (8/9), perang ini dimulai oleh AS dan Israel yang menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, gugur.

Iran kemudian membalas dengan menyerang berbagai fasilitas militer AS di negara-negara tetangganya. Iran juga menutup Selat Hormuz hingga memicu harga minyak dunia melambung tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perang sempat mereda lewat kesepakatan antara AS dan Iran. Kesepakatan itu tercapai lewat mediasi yang dilakukan Pakistan. Namun, perang kembali pecah setelah Iran dan AS saling tuduh ada pelanggaran. Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan damai telah berakhir.

Perang ini telah menyebabkan ribuan orang tewas di Iran. Selain itu, perang telah menyebabkan 18 tentara AS tewas.

ADVERTISEMENT

Serangan Terbaru AS

Dilansir AFP, AS menyatakan telah menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan terhadap kapal-kapal tanker terkait dengan Korps Garda Revolusi Iran itu dilakukan pada Sabtu (5/9) dini hari. AS juga menuduh sayap terkuat militer Iran tersebut gagal saat mencoba menembaki kapal perang Amerika.

"Menyusul serangan Iran yang gagal, CENTCOM melumpuhkan secara permanen kapal pengangkut minyak mentah milik IRGC, yaitu M/T Downy di lepas pantai Pulau Kharg dan M/T Stark 1 di dekat Jask," demikian pernyataan Komando Pusat AS seperti dilansir AFP.

"Pasukan Amerika juga menghancurkan sepenuhnya kapal pengangkut minyak mentah M/T Kylo yang sedang tidak bermuatan di Teluk Oman, dengan menghantam kapal tersebut di beberapa titik vital hingga tidak dapat beroperasi lagi, setelah awak kapal diperintahkan untuk meninggalkan kapal," tambah pernyataan itu.

Berdasarkan video yang diunggah CENTCOM, tampak bola api besar dan kobaran api yang membumbung tinggi setelah proyektil menghantam kapal-kapal tersebut. Ketiga kapal itu disebut sebagai bagian dari jaringan bayangan bernilai miliaran dolar yang mendanai IRGC dan kelompok-kelompok proksinya di kawasan.

AS kemudian melontarkan ancaman usai menyerang kapal-kapal Iran itu. AS menyebut akan membuat Iran menanggung biaya lebih besar.

"Jika kalian menembaki dua kapal kami, kami akan membebankan biaya ekonomi yang jauh lebih besar-dengan melumpuhkan tiga kapal kalian," ujar Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper.

Iran Balas Ancam AS

Dalam pernyataan yang diterbitkan kantor berita negara IRNA, Garda Revolusi mengatakan angkatan udara mereka 'menyerang sebuah kapal induk dan sebuah kapal perusak dengan beberapa rudal balistik'. Garda Revolusi menyebut kedua kapal perang AS tersebut terpaksa mundur setelah mengalami kerusakan.

Namun, CENTCOM menyatakan kapal-kapal tersebut berhasil menghindari serangan Iran. Iran juga mengatakan pasukannya telah menyerang pesawat nirawak (drone) angkatan laut AS yang mencoba memasuki Selat Hormuz. Serangan itu dilakukan beberapa jam setelah menargetkan sejumlah kapal sebagai balasan atas serangan AS terhadap tiga kapal tanker minyak.

"Menyerang sebuah American military unmanned surface vessel (drone laut atau kapal tanpa awak yang beroperasi di permukaan air -red) Amerika yang mencoba memasuki selat tersebut," menurut pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah.

IRGC juga menyatakan pasukan angkatan lautnya menargetkan tiga kapal tanker minyak di jalur tidak resmi Selat Hormuz dan tiga kapal yang berafiliasi dengan Amerika di wilayah lain. Pihaknya memperingatkan kapal-kapal agar tidak mencoba melintas melalui jalur yang tidak disetujui.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengancam serangan pembalasan yang lebih dahsyat jika AS terus melanjutkan serangan terhadap negaranya. Ghalibaf menegaskan bahwa era untuk serangan pembalasan yang proporsional 'telah berakhir'.

Ancaman itu, seperti dilansir AFP, disampaikan Ghalibaf setelah Teheran menyerang kapal-kapal perang AS di Selat Hormuz, untuk membalas serangan pasukan Amerika terhadap kapal-kapal tanker Iran.

"Pihak Amerika harus memahami bahwa era tanggapan yang proporsional telah berakhir," kata Ghalibaf dalam pidatonya.

"Setiap agresi terhadap kepentingan dan keamanan Iran akan dibalas dengan tanggapan yang lebih cepat, lebih intens, dan lebih menyakitkan," tegas Ghalibaf yang juga bertindak sebagai kepala negosiator Iran dalam perundingan dengan AS untuk mengakhiri perang.

Dia juga menyebut Iran siap menyerang aset-aset energi AS di Timur Tengah. Dia memperingatkan AS tidak menyerang Iran lagi.

"Serang aset-aset kami, dan Anda akan diserang," tegas Ghalibaf dalam pernyataannya, seperti dilansir Anadolu Agency dan Reuters, Selasa (8/9).

"Kami sudah membuktikannya. Tanyakan saja pada pangkalan-pangkalan yang kini sudah tidak bisa lagi beroperasi," imbuhnya.

Halaman 2 dari 4
(haf/rfs)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini