Iran mengatakan akan mengumumkan zona terlarang di perairan Teluk, dekat Selat Hormuz, dalam beberapa hari ke depan. Teheran juga akan mempublikasikan peta yang menampilkan koridor pelayaran baru di perairan Selat Hormuz, jalur perairan yang vital untuk pasokan minyak dan gas global.
Hal ini disampaikan saat pertempuran terbaru antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlanjut pada akhir pekan, yang memicu kenaikan harga minyak pada Senin (7/9) waktu setempat.
"Dalam beberapa hari mendatang, sebuah zona terlarang akan diumumkan di luar Selat Hormuz," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dalam pernyataan kepada televisi pemerintah Teheran, seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin (7/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Zona ini akan membentang mulai dari garis blokade Angkatan Laut AS dan mencakup wilayah Teluk Persia," sebutnya.
"Setiap kapal yang memasuki zona baru ini akan dimasukkan ke dalam daftar sanksi (Iran)," tegas Rezaei dalam wawancara yang ditayangkan pada Minggu (6/9).
Hanya sedikit detail yang diberikan Rezaei mengenai rencana penetapan zona terlarang tersebut.
Dalam wawancara tersebut, Rezaei juga mengatakan bahwa peta yang merinci rute pelayaran di Selat Hormuz, yang sebagian besar tertutup bagi lalu lintas kapal tanker selama perang Iran-AS berkecamuk, juga akan segera disahkan dan diungkap ke publik.
"Peta koridor internasional baru yang terletak di perairan Iran dan Oman, di mana Iran akan memegang kendali pengelolaannya, telah disepakati dan dijadwalkan untuk ditandatangani dalam beberapa hari ke depan," ucapnya.
"Kami hanya akan berkomitmen untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, jika mereka (AS-red) menghentikan sabotase, ancaman, dan serangan terhadap Iran," tegas Rezaei.
Enam bulan setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran memicu perang, konflik yang meluas di Timur Tengah itu menemui jalan buntu. Kesepakatan gencatan senjata awal, yang diteken pada Juni lalu, telah gagal.
Hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam upaya diplomatik untuk mengembalikan proses perdamaian ke jalurnya.
Menyusul jeda pertempuran selama sepanjang Agustus, aksi saling serang kembali terjadi antara Iran dan AS. Pada Sabtu (5/9), pasukan AS menyerang tiga kapal tanker Iran, termasuk salah satunya di lepas pantai Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Teheran.
Pusat Komando AS (CENTCOM) menyebut serangan itu merespons serangan yang dilancarkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap dua kapal perang Amerika di kawasan Timur Tengah.
Namun Iran menyebut pasukan AS terlebih dahulu menyerang tiga kapal tankernya, dan pasukan IRGC membalas dengan menargetkan sebuah drone angkatan laut AS, tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz dan tiga kapal yang terafiliasi dengan Amerika di area lainnya.
CENTCOM, dalam pernyataannya, mengklaim kapal-kapal perang Amerika "berhasil menghindari" serangan-serangan Iran.
Sementara Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan AS terhadap kapal tanker minyak negara tersebut sebagai "aksi ilegal dan agresif".
Teheran sendiri telah menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk menyerang kepentingan-kepentingan AS di kawasan, dan menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Menurut data pelayaran pada Senin (7/9), rata-rata 10 kapal pengangkut komoditas melintasi Selat Hormuz setiap harinya selama 10 hari terakhir -- angka terendah sejak Mei. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak setelah lonjakan besar pekan lalu, dengan harga minyak mentah Brent naik 0,8 persen hingga melampaui angka US$ 97 per barel.
Lihat Video 'Iran Balas Serangan AS, Kapal Induk & Kapal Perusak Jadi Sasaran':










































