Amerika Serikat (AS) menggempur Pulau Larak di Iran bagian selatan pada Minggu (30/8), dalam serangan yang disebut Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk mencegah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menebar ranjau laut di Selat Hormuz.
Pulau Larak merupakan pulau kecil sepanjang 9,6 kilometer, yang sebagian besar terdiri atas batu pasir, dengan populasi sedikit di atas 400 jiwa. Namun demikian, seperti dilansir New York Times dan Al Arabiya, Selasa (1/9/2026), pulau tersebut memiliki arti penting secara geopolitik.
Pulau kecil ini menjadi titik pijak bagi militer Iran di gerbang masuk Selat Hormuz. Pulau Larak juga memegang peran yang sangat signifikan dalam upaya Teheran memblokade Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan minyak dan gas global yang baru-baru ini menjadi titik perselisihan dengan Washington.
Menurut Badan Energi Internasional (IEA), posisi Pulau Larak yang berada di dalam Selat Hormuz, menjadi bagian dari jaringan posisi militer Iran di sekitar jalur perairan strategis tersebut, yang dilalui oleh 34 persen pasokan minyak mentah global sepanjang tahun 2025 lalu.
Lokasi Pulau Larak yang dekat dengan jalur maritim yang vital secara global, telah memberikan posisi strategis yang berharga bagi pasukan militer Iran. Hal ini memungkinkan Teheran untuk memantau dan mempengaruhi aktivitas di Selat Hormuz.
Iran juga dapat memberikan tekanan tanpa harus menutup total Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial. Ancaman-ancaman berupa ranjau, rudal, atau serangan lainnya dapat menciptakan tekanan dengan cara mengubah perilaku kapal-kapal dan kekuatan angkatan laut yang melintas.
Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, mengatakan bahwa pasukan AS menyerang Pulau Larak setelah mendeteksi pasukan Iran di sana sedang bersiap meluncurkan roket-roket bermuatan ranjau ke perairan sekitar Selat Hormuz.
(nvc/ita)