Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai "diktator anti-Semit" dan bersumpah Israel akan "terus bertindak tegas terhadap upaya Turki untuk menggoyahkan stabilitas kawasan."
Hal ini terjadi beberapa hari setelah Suriah menuduh Israel menggempur pangkalan udara di utara negara itu, yang berjarak dekat dari perbatasan Turki. Netanyahu kemudian secara diam-diam mengakui serangan tersebut.
Netanyahu mengatakan Turki berupaya membangun kehadiran militer di sana, tetapi Turki membantah telah mengunjungi lokasi tersebut.
Hal ini juga menyusul pengumuman Turki pada hari Jumat (21/8) bahwa mereka telah meminta surat perintah penangkapan internasional untuk Netanyahu, menuduhnya melakukan "genosida" yang terkait dengan pencegatan konvoi kapal bantuan Israel untuk Gaza.
"Israel sudah lama tidak terkesan dengan kemunafikan Turki. Erdogan adalah seorang diktator anti-Semit yang membantai Kurdi, mendukung pembantaian oleh organisasi teroris Hamas, dan menindas rakyatnya sendiri," kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (22/8/2026).
Pernyataan itu menambahkan bahwa Israel akan "terus bertindak tegas terhadap upaya Turki untuk menggoyahkan kawasan dan terhadap setiap ancaman terhadap keamanannya."
Sebelumnya pada hari Selasa lalu, Suriah menuduh Israel menyerang pangkalan udara militer yang tidak digunakan lagi di dekat kota Aleppo, yang rusak selama perang saudara dan telah tidak beroperasi sejak 2012.
(ita/ita)