Reklame 'Musuh Netanyahu' Mejeng Jelang Pemilu Israel, Ada Erdogan-Mamdani

Reklame 'Musuh Netanyahu' Mejeng Jelang Pemilu Israel, Ada Erdogan-Mamdani

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 25 Agu 2026 12:29 WIB
Reklame musuh Netanyahu mejeng di Tel Aviv jelang pemilu Israel pada Oktober tahun ini (REUTERS/Amir Cohen)
Foto: REUTERS/Amir Cohen
Jakarta -

Partai Likud yang dipimpin Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memasang papan reklame raksasa wajah tokoh-tokoh yang dianggap musuh Israel. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan hingga Wali Kota New York Zohran Mamdani terpampang di reklame tersebut.

Dilansir CNN, Selasa (25/8/2026), papan reklame raksasa itu dipasang sejak pekan lalu di jalan raya utama Tel Aviv, tepat di pusat kampanye pemilu kubu Netanyahu. Netanyahu dan Partai Likud diketahui akan bertarung dalam pemilu Israel yang digelar akhir Oktober mendatang.

Selain wajah Erdogan dan Mamdani, reklame raksasa itu juga menampilkan wajah pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan pemimpin Hizbullan Naim Qassem. Reklame itu juga memuat teks berbahasa Ibrani yang berbunyi 'Mereka Ingin Netanyahu Kalah, Jangan Biarkan Mereka Menang'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kubu Netanyahu diketahui mulai melancarkan narasi dalam mempertahankan kekuasannya jelang pemilu Israel. Beberapa hari setelah pemasangan reklame raksasa tersebut, Israel secara terbuka menjadikan Turki sebagai pusat konfrotasi militer terbaru mereka.

Reklame 'musuh Netanyahu' mejeng di Tel Aviv jelang pemilu Israel pada Oktober tahun ini (REUTERS/Amir Cohen)Reklame 'musuh Netanyahu' mejeng di Tel Aviv jelang pemilu Israel pada Oktober tahun ini (REUTERS/Amir Cohen)

Jet-jet tempur Israel menyerang pangkalan udara Abu al-Dahar di Suriah utara. Serangan itu menyasar pasukan dan objek militer Turki yang telah dipandang Israel sebagai ancaman signifikan.

Utusan Presiden Amerika Serikat (AS) untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, melontarkan kritik terbuka kepada Israel atas serangan di pangkalan Suriah tersebut. Barrack menyebut ada motif politik, dengan melontarkan teori bahwa Israel hanya berusaha memancing Turki. Ia menyebut tindakan itu sebagai "langkah yang sangat agresif, namun mungkin menguntungkan secara politis menjelang pemilihan umum."

Secara resmi, Israel menyatakan bahwa serangan tersebut semata-mata merupakan kebutuhan operasional. Netanyahu maupun Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa intelijen Israel mendeteksi adanya persiapan Turki untuk menempatkan pasukan dan peralatan di pangkalan udara tersebut.

Menurut kantor berita pemerintah Suriah, pada hari Minggu (23/8), Roman Goffman selaku kepala badan intelijen Mossad Israel kembali bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani di Yordania untuk meredakan ketegangan terkini.

Pihak Turki, Amerika Serikat, dan sejumlah rival politik domestik Netanyahu menyoroti waktu kejadian tersebut. Sembari menolak penjelasan pihak Israel karena dianggap "tidak dapat dipertanggungjawabkan," Turki menuduh Netanyahu menjalankan kebijakan ekspansionis dan yang memicu ketidakstabilan di kawasan menjelang pemungutan suara bulan Oktober.

Suara Partai Netanyahu Jeblok di Survei Terbaru

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat ini diduga tengah merancang untuk menunda pemilu Israel akhir dengan memantik eskalasi di Jalur Gaza. Usut punya usut, perolehan partai Netanyahu ternyata tertinggal dalam jajak pendapat terbaru yang dilakukan di Israel.

Dilansir The Times of Israel, Channel 12, stasiun televisi utama di Israel mengeluarkan hasil survei terbaru terkait pemilu Israel. Jajak pendapat yang dilakukan pada Jumat (20/8) itu memperlihatkan posisi Partai Likud yang dipimpin Netanyahu meraih peringkat kedua. Partai tersebut diprediksi mendapatkan 21 kursi.

Dalam survei itu, Partai Yashar yang didirikan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Gadi Eisenkot, berada di peringkat pertama. Partai yang baru terbentuk pada September tahun lalu ini diprediksi meraih 24 kursi.

Survei Channel 12 ini juga mengungkap peluang Netanyahu menang dalam pemilihan Perdana Menteri Israel. Survei tersebut memuat 44 persen pemilih memilih Eisenkot sebagai Perdana Menteri dibandingkan Netanyahu yang hanya meraih 34 persen suara.

Namun sebagai catatan, jabatan Perdana Menteri di Israel tidak dipilih langsung oleh rakyat. Warga hanya memilih partai politik untuk duduk di parlemen, lalu Presiden akan menunjuk pemimpin partai yang paling mampu membentuk koalisi mayoritas untuk menjabat sebagai Perdana Menteri.

Simak juga Video Netanyahu Klaim Iran Pernah Coba Bunuh Salah Satu Anaknya

Halaman 2 dari 2
(ygs/gbr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini