Presiden Irak Kutuk Serangan Gabungan AS-Saudi yang Tewaskan 20 Orang

Presiden Irak Kutuk Serangan Gabungan AS-Saudi yang Tewaskan 20 Orang

Matius Alfons Hutajulu - detikNews
Rabu, 29 Jul 2026 20:34 WIB
Bendera Irak Pertanda Kemenangan dari ISIS
Foto: Bendera Irak (Erik De Castro/ REUTERS)
Jakarta -

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak pada hari Rabu (29/7) menewaskan sedikitnya 20 anggota bekas aliansi paramiliter yang mencakup kelompok-kelompok pro-Iran. Presiden Irak Nizar Amedi mengutuk serangan gabungan AS dan Arab Saudi tersebut.

Dilansir Aljazeera, Rabu (29/7/2026), dalam sebuah pernyataan, Amedi mengatakan serangan mematikan itu "tidak dapat diterima". Ia juga menegaskan serangan itu sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Irak, yang menargetkan lembaga keamanan resminya bertentangan dengan hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amedi mengatakan wilayah Irak tidak boleh digunakan sebagai "landasan atau arena untuk serangan terhadap negara-negara tetangga atau untuk menyelesaikan perselisihan regional dan internasional".

Ia mendesak "semua pihak untuk menghormati kedaulatan Irak dan menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat merusak keamanan dan stabilitasnya".

ADVERTISEMENT

20 Orang Tewas di Irak

Serangan gabungan AS dan Arab Saudi di Irak menewaskan sedikitnya 20 anggota bekas aliansi paramiliter yang mencakup kelompok-kelompok pro-Iran.

Amerika Serikat dan Arab Saudi mengatakan mereka telah menyerang para milisi pro-Iran di Irak sebagai respons atas serangan drone dari Irak terhadap pasukan AS dan fasilitas minyak Saudi.

Dilansir kantor berita AFP, Rabu (29/7/2026), Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) mengatakan sedikitnya 20 petempur "tewas dan 32 lainnya terluka menurut penghitungan sementara". PMF merupakan aliansi bekas kelompok paramiliter dan faksi-faksi yang kini terintegrasi ke dalam angkatan bersenjata Irak.

PMF dalam pernyataannya menambahkan bahwa "agresi" AS-Arab Saudi menargetkan pangkalan PMF di tujuh provinsi, termasuk Baghdad, Nineveh di Irak utara dan Basra di selatan negara itu, yang juga menyebabkan kerusakan material.

Pernyataan itu mengecam "eskalasi berbahaya" terhadap "lembaga keamanan resmi".

Seorang pejabat PMF mengatakan kepada AFP dengan syarat anonim, bahwa serangan di Nineveh dan provinsi Diyala tengah adalah yang paling mematikan.

Simak juga Video 'Trump Samakan Iran dengan Venezuela: Kami Hancurkan Mereka':

(maa/dwr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini