Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Tak Ada Kesepakatan

Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Tak Ada Kesepakatan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 15 Jul 2026 12:16 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: REUTERS/Umit Bektas)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: REUTERS/Umit Bektas)
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Trump mengatakan bahwa ia akan memperluas serangan AS terhadap Iran minggu depan untuk menargetkan pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran tidak membuat kesepakatan.

"Minggu depan akan menjadi sangat buruk bagi mereka karena minggu depan gilirannya pembangkit listrik. Minggu depan gilirannya jembatan," kata Trump dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi AS, Fox News pada hari Selasa (14/7) waktu setempat.

"Kita akan menghancurkan semua pembangkit listrik mereka. Kita akan menghancurkan semua jembatan mereka kecuali mereka mau duduk di meja perundingan dan bernegosiasi," imbuhnya, dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika ditanya berapa lama serangan AS akan berlanjut, Trump menjawab: "Serangan akan berlanjut sampai saya mengatakan itu sudah cukup."

Komentar Trump ini muncul seiring pasukan AS melancarkan serangan terhadap Iran untuk hari keempat berturut-turut. AS juga telah memberlakukan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan negara tersebut. Kebijakan tersebut berlaku bagi kapal-kapal yang menuju maupun meninggalkan pelabuhan Iran.

Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk setelah serangkaian serangan terhadap kapal tanker, pangkalan militer, dan infrastruktur strategis.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi militer itu bertujuan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Teheran memperluas serangan balasan terhadap sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang semakin meluas.

Militer AS juga menegaskan bahwa lebih dari 50.000 personel masih disiagakan di Timur Tengah.

Meningkatnya konfrontasi antara Washington dan Teheran langsung memicu gejolak di pasar energi global. Dilansir DW, harga minyak Brent pada Selasa (14/7), naik lebih dari 2 persen hingga mendekati 85 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah mendekati 80 dolar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barel.

Pasar bereaksi terhadap meningkatnya risiko gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu titik transit minyak terpenting di dunia.

Simak juga Video: Ditanya Sampai Kapan Serang Iran, Trump: Lanjut Hingga Kubilang Cukup

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini