Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat mengakhiri "tindakan agresinya." IRGC pun mengingatkan bahwa rute ekspor minyak regional lainnya juga dapat menjadi sasaran.
Perang antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimulai pada akhir Februari lalu, telah menghambat pasokan energi melalui Selat Hormuz, rute transit utama untuk pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
IRGC mengatakan mereka melakukan serangan terhadap fasilitas-fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait setelah serangan Amerika di wilayah Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Musuh harus tahu bahwa sekarang setelah kapal-kapal perampok maritimnya memblokir rute Samudra Hindia untuk ekspor minyak dan gas ke dunia -- sehingga membahayakan kepentingan saingan ekonomi Amerika -- mereka juga harus mengharapkan penutupan rute ekspor minyak dan gas lainnya yang melayani kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya," kata IRGC dalam pernyataannya yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB.
Mereka tidak menjelaskan rute mana yang mungkin terpengaruh.
"Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan tersedia untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun," tambah IRGC, dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/7/2026).
Dalam pernyataan terpisah, Garda Revolusi Iran mengatakan: "Operasi pembalasan para pejuang akan terus berlanjut, dan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai Amerika Serikat mengakhiri tindakan agresinya."
Para pejabat AS sebelumnya telah menolak pernyataan Iran bahwa Teheran dapat mengendalikan navigasi melalui selat tersebut, dan bersikeras bahwa jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka.
Presiden AS Donald Trump pun menegaskan bahwa tidak ada negara yang bisa memungut biaya atau tarif di Selat Hormuz. Penegasan itu disampaikan Trump setelah dia membatalkan pemberlakuan tarif 20 persen untuk setiap muatan kargo yang dibawa melintasi jalur perairan strategis itu.
"Kami ingin mereka melakukan investasi besar-besaran di Amerika Serikat, bukannya memungut biaya. Dan saya sebenarnya menyukai hal tersebut, karena menurut saya, tidak seharusnya ada pihak yang memungut biaya untuk selat tersebut atau selat lainnya di mana pun yang melibatkan belahan dunia lainnya," kata Trump saat berbicara dalam pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (15/7/2026).
Trump mengatakan bahwa negara-negara Teluk telah mengisyaratkan kesediaan untuk meningkatkan investasi di AS, daripada mengandalkan pendapatan dari biaya transit.
"Negara-negara Teluk akan menanamkan investasi dalam jumlah sangat besar di AS, dan hal itu sangat memuaskan bagi saya. Menurut saya, itu justru jauh lebih baik," ucap Presiden AS tersebut.
Trump mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan para pemimpin dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, dan Kuwait.
"Saya telah berbicara dengan mereka semua, dan mereka sangat ingin menginvestasikan lebih banyak modal di Amerika Serikat dalam jumlah yang memecahkan rekor, dan hal itu tentu sangat disambut baik. Dengan cara ini, tidak ada biaya tambahan. Saya tidak menyukai konsep adanya biaya semacam itu," ujarnya.
Lihat juga Video: AS Blokade Selat Hormuz, Iran Akan Lawan!











































