Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut Amerika Serikat (AS) tidak dapat dipercaya. AS menyerang lokasi radar dan pusat komando drone Iran yang ada di area Goruk dan Pulau Qeshm.
Ghalibaf memperingatkan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sampai hak-hak rakyat Iran sepenuhnya dijamin.
Sementara itu, Washington mengklaim bahwa serangan terbarunya terhadap Teheran merupakan "serangan pertahanan diri".
Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Senin (1/6/2026):
- Iran Bilang Tak Ada Deal dengan AS Sampai Hak-haknya Dijamin
Perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak dapat dipercaya. Ghalibaf mengatakan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sampai hak-hak rakyat Iran sepenuhnya dijamin.
"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dilansir AFP, Senin (1/6/2026).
Ghalibaf, yang juga menjabat ketua parlemen Iran ini, menambahkan bahwa para negosiator Iran "tidak mempercayai kata-kata musuh maupun janji-janjinya".
- AS Serang Radar-Pusat Komando Drone Iran, Klaim Membela Diri
Amerika Serikat (AS) mengumumkan pasukannya telah menyerang lokasi radar dan pusat komando drone Iran yang ada di area Goruk dan Pulau Qeshm. Diklaim oleh Washington bahwa serangan terbarunya itu merupakan "serangan pertahanan diri".
Serangan terbaru AS itu, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Senin (1/6/2026), diumumkan oleh Komando Pusat AS, atau CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
"Komando Pusat AS melancarkan serangan pertahanan diri terhadap lokasi radar dan komando serta kendali drone Iran di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm pada akhir pekan ini," kata CENTCOM dalam pernyataannya via media sosial X pada Minggu (31/5) malam.
- Iran Targetkan Pangkalan Udara AS Usai Wilayahnya Diserang
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan pasukannya, pada Senin (1/6) pagi, telah menargetkan sebuah pangkalan udara Amerika Serikat (AS) yang digunakan untuk menyerang wilayah Iran. IRGC mengklaim semua target yang ditetapkan telah dihancurkan dalam serangan pembalasan tersebut.
Lokasi pangkalan udara AS yang menjadi target serangan, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Senin (1/6/2026), tidak disebutkan secara spesifik oleh IRGC dalam pernyataannya, yang disiarkan televisi IRIB dan media pemerintah Iran lainnya.
Namun pernyataan IRGC ini dirilis setelah militer Kuwait mengumumkan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat "serangan rudal dan drone musuh". AS diketahui memiliki pangkalan militer di berbagai negara Teluk, termasuk Kuwait.
- Netanyahu Perintahkan Penyerbuan Lebih Dalam ke Lebanon Targetkan Hizbullah
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa dirinya telah memerintahkan pasukan militer Israel untuk bergerak lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon, dalam pertempuran darat melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Pertempuran kembali pecah di Lebanon meskipun gencatan senjata telah diumumkan lebih dari enam pekan yang lalu.
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah, setelah kelompok Hizbullah melancarkan serangan roket dan drone terhadap wilayah Israel, untuk mendukung Teheran. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi akibat rentetan serangan Israel dan perintah evakuasi sejak 2 Maret lalu.
- Jenderal Iran: Trump Harus Pilih Antara Opsi 'Buruk' atau 'Lebih Buruk'
Seorang jenderal militer Iran memperingatkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sama sekali tidak memiliki pilihan yang baik terkait Iran. Dia mengatakan bahwa Trump harus memilih antara pilihan yang "buruk" atau "lebih buruk".
Peringatan tersebut, seperti dilansir Press TV, Senin (1/6/2026), disampaikan oleh Brigadir Jenderal Yadollah Javani yang menjabat sebagai Wakil Bidang Urusan Politik pada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
"Trump, yang kekalahannya dalam perang telah menjadi jelas bagi siapa pun, sekarang menghadapi dua jalan ke depan: jalan yang buruk atau jalan yang lebih buruk," cetus Javani dalam pernyataan pada Sabtu (30/5) malam waktu setempat.
Tonton juga Video Terpopuler Sepekan: Sapi Kurban Prabowo-Israel Masuk Daftar Hitam PBB











































