Seorang jenderal militer Iran memperingatkan bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sama sekali tidak memiliki pilihan yang baik terkait Iran. Dia mengatakan bahwa Trump harus memilih antara pilihan yang "buruk" atau "lebih buruk".
Peringatan tersebut, seperti dilansir Press TV, Senin (1/6/2026), disampaikan oleh Brigadir Jenderal Yadollah Javani yang menjabat sebagai Wakil Bidang Urusan Politik pada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
"Trump, yang kekalahannya dalam perang telah menjadi jelas bagi siapa pun, sekarang menghadapi dua jalan ke depan: jalan yang buruk atau jalan yang lebih buruk," cetus Javani dalam pernyataan pada Sabtu (30/5) malam waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Javani mengatakan bahwa Trump harus memilih antara mengakui kondisi dan hak-hak rakyat Iran, atau melanjutkan perang terhadap Teheran. Dia menekankan bahwa "musuh" telah melakukan kesalahan strategis dalam perhitungannya dengan melancarkan agresi terhadap Iran.
"Iran telah memenangkan pertempuran ini, dan Amerika Serikat sedang menuju spiral kekalahan dan kemunduran," sebutnya.
Diklaim oleh Javani bahwa terjadi pergeseran di kawasan yang menguntungkan Iran, yang disebutnya saat ini memegang posisi dominan atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang terdampak perang. Dia menegaskan status dan hak sah bangsa Iran atas jalur perairan vital tersebut.
"Iran sekarang berada dalam posisi kemenangan dan superioritas. Republik Islam (Iran) telah menyatakan syarat-syaratnya untuk memecah kebuntuan saat ini, dan sekarang giliran Amerika Serikat untuk mengambil keputusan mengenai masalah ini," kata Javani dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, jenderal senior IRGC itu memperingatkan agar musuh-musuh Iran tidak melakukan kesalahan perhitungan lebih lanjut. Dia menegaskan bahwa militer Iran sepenuhnya siap dan akan memberikan respons yang jauh lebih kuat, lebih tegas, dan lebih tidak terduga jika musuh melakukan kesalahan lagi.
Negosiasi antara AS dan Iran dilaporkan terus berlangsung, dengan laporan media-media Barat, seperti New York Times (NYT) dan Axios, menyebut Trump telah mengirimkan versi revisi dari kerangka kerja perdamaian yang diusulkan, yang berisi persyaratan yang "lebih keras", untuk dipertimbangkan oleh Iran.
Detail mengenai perubahan yang dilakukan Trump pada draf kesepakatan yang diusulkan itu tidak diketahui secara jelas. Namun setiap perubahan pada draf yang diusulkan dapat semakin menunda kesepakatan untuk secara resmi mengakhiri perang.
Trump telah mengatakan bahwa prioritasnya termasuk menghentikan Iran dari pengembangan senjata nuklir dan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup oleh Iran sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Dalam pernyataan terbaru, perunding utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa Teheran tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Washington sampai hak-hak rakyat Iran sepenuhnya dijamin.
"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Ghalibaf dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran.
Simak juga Video Di Balik Ketegangan Baru AS dan Iran: Rincian Syarat dari Trump-Respons Teheran










































