Berbagai laporan dan pernyataan resmi dari pemerintah Iran memicu kesimpangsiuran mengenai kondisi kesehatan dan peran pemimpin tertinggi negara itu, Mojtaba Khamenei, yang belum pernah muncul di depan publik.
Menurut laporan terbaru Amerika Serikat (AS) yang mengandalkan berbagai sumber yang mengetahui intelijen, seperti dilansir Al Arabiya, Senin (11/5/2026), Mojtaba yang menjabat sejak 8 Maret lalu, dalam keadaan hidup dan aktif berpartisipasi dalam merumuskan strategi perang.
Laporan tersebut juga menguatkan informasi sebelumnya soal Mojtaba yang terus menerima perawatan medis untuk luka bakar serius di tubuhnya, akibat serangan udara AS-Israel yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut laporan AS itu, Mojtaba tetap berkontribusi terhadap negosiasi dengan AS untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung.
Laporan tersebut menyatakan bahwa Mojtaba tidak menggunakan perangkat elektronik dan hanya berkomunikasi dengan sejumlah kecil orang, baik melalui akses langsung yang terbatas atau melalui perantara.
Namun, seorang sumber lainnya mengatakan bahwa Mojtaba relatif terpisah dari proses pengambilan keputusan dan hanya dapat dihubungi secara berkala.
Hal ini membuat para komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengelola operasi sehari-hari bersama ketua parlemen Iran, Mohammad Baghir Ghalibaf.
Secara terpisah, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menyatakan bahwa peran pemimpin baru Iran terutama mencakup menyetujui dan mengonfirmasi keputusan-keputusan besar paling final.
(nvc/ita)