Lalu lintas udara militer Amerika Serikat (AS) dari Eropa ke kawasan Timur Tengah mengalami peningkatan yang cukup signifikan baru-baru ini. Hal ini terdeteksi saat ketegangan antara AS dan Iran terus berlanjut, setelah upaya perdamaian untuk mengakhiri perang terhenti.
Pemeriksaan yang dilakukan kantor berita Turki, Anadolu Agency, menggunakan data FlightRadar24, seperti dilansir Anadolu, Senin (4/5/2026), menemukan peningkatan yang tidak biasa dalam jumlah pesawat militer AS yang terbang dari pangkalan mereka di Eropa ke negara-negara Timur Tengah pada 2 Mei kemarin.
Sebagian besar pesawat militer AS yang terdeteksi mengudara ke Timur Tengah terdiri atas pesawat angkut militer dan pesawat pengisian bahan bakar di udara.
Di antara pesawat militer itu adalah pesawat kargo militer C-17A Globemaster III, yang mampu mengangkut sekitar 77 ton muatan kargo dan sekitar 100 personel.
Pesawat angkut Lockheed C-5M Super Galaxy, pesawat angkut terbesar di Angkatan Udara AS, dengan kapasitas muatan sekitar 127 ton, dan Boeing KC-46 Pegasus, pesawat tanker buatan Boeing yang digunakan untuk pengisian bahan bakar di udara dan transportasi strategis, menurut Anadolu Agency, juga terlihat beroperasi di wilayah udara Eropa dan Timur Tengah.
Setidaknya 12 pesawat angkut militer AS dilaporkan sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah, beberapa di antaranya berangkat dari Jerman.
Pesawat tanker Boeing KC-135 Stratotanker juga termasuk di antara pesawat yang mengudara ke kawasan tersebut, dengan setidaknya empat pesawat pengisian bahan bakar terlihat beroperasi di sekitar Israel dan area-area sekitarnya.
Selain itu, pesawat pengintai intelijen sinyal (SIGNIT) milik AS, jenis Boeing RC-135W Rivet Joint, terlihat beroperasi di langit dekat Bahrain.
(nvc/ita)