Delegasi Amerika Serikat (AS) bertolak ke Pakistan pada Sabtu (25/4) untuk memulai babak baru perundingan damai dengan Iran, meskipun Teheran menegaskan tidak ada rencana untuk melakukan pembicaraan tatap muka dengan delegasi Washington di Islamabad.
Kementerian Pertahanan Iran, seperti dilansir AFP, Sabtu (25/4/2026), menyebut AS sedang mencari cara "untuk menyelamatkan muka" agar dapat keluar dari perang, yang mereka mulai pada akhir Februari lalu.
"Kekuatan militer kita saat ini adalah kekuatan dominan, dan musuh sedang mencari cara untuk menyelamatkan muka agar dapat keluar dari rawa-rawa perang yang telah menjebaknya," sebut juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, seperti dikutip kantor berita ISNA.
AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan-serangan itu terhenti sementara oleh gencatan senjata, yang disepakati selama dua minggu dan dimediasi Pakistan, yang dimulai pada 8 April lalu.
Putaran pertama perundingan damai AS-Iran yang digelar di Islamabad pekan lalu dengan tujuan mengakhiri perang secara permanen, berakhir tanpa kesepakatan apa pun.
Putaran kedua perundingan damai itu seharusnya berlangsung pada Selasa (21/4) kemarin, namun tidak pernah terjadi. Iran menegaskan belum siap untuk berkomitmen hadir, dan delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance batal terbang ke Pakistan.
Menjelang gencatan senjata dua minggu itu berakhir, Presiden AS Donald Trump secara sepihak memperpanjang gencatan senjata untuk memberikan lebih banyak waktu guna mempertemukan kembali para negosiator.
(nvc/idh)