Iran Tuntut Gencatan Senjata Lebanon-Pencairan Aset Sebelum Dialog dengan AS

Iran Tuntut Gencatan Senjata Lebanon-Pencairan Aset Sebelum Dialog dengan AS

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 11 Apr 2026 10:37 WIB
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memimpin delegasi Teheran dalam perundingan di Pakistan (dok. Reuters)
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memimpin delegasi Teheran dalam perundingan di Pakistan (dok. Reuters)
Islamabad -

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset-aset Teheran yang dibekukan di luar negeri harus dipastikan, sebelum dimulainya negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).

Sebagai bagian dari gencatan senjata selama dua minggu, Iran dan AS sepakat untuk melakukan pertemuan di Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan perundingan membahas perdamaian permanen.

Ghalibaf yang memimpin delegasi Iran, seperti dilansir Anadolu Agency dan Al Arabiya, Sabtu (11/4/2026), memicu keraguan terbaru untuk perundingan dengan AS, setelah menuntut gencatan senjata di Lebanon dan pencairan "aset-aset yang diblokir" sebelum negosiasi dimulai, yang dijadwalkan pada Sabtu (11/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dua dari langkah-langkah yang telah disepakati bersama antara kedua pihak, belum dilaksanakan: gencatan senjata di Lebanon dan pencairan aset-aset Iran yang diblokir sebelum dimulainya negosiasi," ujarnya.

"Kedua hal ini harus dipenuhi sebelum negosiasi dimulai," tegas Ghalibaf dalam pernyataan via media sosial X.

Belum ada tanggapan langsung dari AS soal tuntutan Iran tersebut.

Iran berulang kali menegaskan bahwa gencatan senjata selama dua minggu harus diterapkan juga di Lebanon, di mana Israel masih melancarkan pengeboman terhadap Hizbullah yang didukung Iran. Washington dan Tel Aviv menyangkal bahwa gencatan senjata itu juga mencakup Lebanon.

Perkiraan nilai aset Iran yang dibekukan di luar negeri karena sanksi AS bervariasi. Namun pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang tindakan koersif sepihak, Alena Douhan, memperkirakan pada tahun 2022 lalu bahwa angkanya mencapai US$ 100 miliar hingga US$ 120 miliar.

Ghalibaf, yang memimpin delegasi Iran yang terdiri atas lebih dari 70 orang, mengatakan Teheran memiliki niat baik dalam menghadiri perundingan di Islamabad.

Media lokal Iran melaporkan bahwa delegasi tersebut juga mencakup Menteri Luar Negeri (Menlu) Abbas Araghchi, Sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Gubernur Bank Sentral Iran, dan beberapa anggota parlemen Teheran.

Sejumlah sumber resmi yang dikutip Anadolu Agency menyebut perundingan di Islamabad akan membahas beberapa poin sensitif, termasuk pengayaan uranium Iran dan arus perdagangan bebas melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance sedang dalam penerbangan ke Pakistan. Delegasi AS itu disebut mencakup utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner.

Sebelum bertolak ke Pakistan, Vance memperingatkan Iran untuk "tidak mempermainkan" AS.

Tonton juga video "Gus Yahya: Stop Lihat Perang Seperti Nonton Bola!"

Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)


Berita Terkait