×
Ad

Isu Liar Trump Coba-coba Kode Nuklir

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 24 Apr 2026 07:03 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto: REUTERS/Nathan Howard)
Washington -

Rumor beredar mengenai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mencoba-coba kode nuklir saat rapat mengenai Iran pada Sabtu (18/4). Isu liar ini langsung dibantah mentah-mentah oleh Gedung Putih.

Klaim tersebut bermula dari pernyataan mantan perwira CIA, Larry Johnson selama kemunculannya pada 20 April di podcast "Judging Freedom". Saat itu, seperti dilaporkan Newsweek, Johnson mengklaim bahwa rapat darurat Gedung Putih pada 18 April diwarnai adu mulut, di mana Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menolak perintah Trump yang melibatkan apa yang disebut kode nuklir.

Dilansir Al Arabiya English, Kamis (23/4/2026), menurut Johnson, perdebatan itu "cukup sengit," dengan jenderal tersebut menolak untuk memfasilitasi tindakan tersebut. Namun, tidak ada laporan independen atau konfirmasi resmi yang mendukung pernyataan tersebut. Meskipun pertemuan tingkat tinggi memang terjadi sekitar berakhirnya gencatan senjata Iran, tidak ada sumber kredibel yang memverifikasi bahwa wewenang peluncuran nuklir pernah digunakan.

Beberapa anggota parlemen Partai Republik juga telah menyatakan skeptisisme. Senator Thom Tillis mengatakan kepada Newsweek, bahwa ia akan membutuhkan konfirmasi dari berbagai sumber sebelum menganggap klaim tersebut serius. Dia menambahkan bahwa ia tidak dapat membayangkan skenario seperti itu menjadi pertimbangan yang nyata.

Klaim tersebut bertentangan dengan cara kerja sistem komando nuklir AS. Berdasarkan protokol yang telah ditetapkan, Ketua Kepala Staf Gabungan bertugas dalam kapasitas penasihat dan tidak memiliki wewenang untuk memblokir atau melaksanakan perintah peluncuran.

Meskipun terdapat pengamanan seperti "aturan dua orang", sistem ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap perintah yang sah dari panglima tertinggi dilaksanakan. Konfrontasi langsung mengenai prosedur peluncuran nuklir seperti yang dijelaskan itu akan mencerminkan krisis konstitusional yang luas, bukan hanya perselisihan biasa.




(isa/isa)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork