5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

5 Berita Terpopuler Internasional Hari Ini

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 23 Apr 2026 17:04 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: Getty Images via AFP/ANNA MONEYMAKER)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Foto: Getty Images via AFP/ANNA MONEYMAKER)
Jakarta -

Beredar rumor bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba menggunakan kode nuklir selama rapat panas tentang krisis Iran pada hari Sabtu lalu. Seorang juru bicara Gedung Putih membantah klaim viral tersebut.

Klaim tersebut bermula dari pernyataan mantan perwira CIA, Larry Johnson selama kemunculannya pada 20 April di podcast "Judging Freedom". Saat itu, seperti dilaporkan Newsweek, Johnson mengklaim bahwa rapat darurat Gedung Putih pada 18 April diwarnai adu mulut, di mana Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menolak perintah Trump yang melibatkan apa yang disebut kode nuklir.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Kamis (23/4/2026):

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

- Trump Bilang Iran Tak Eksekusi Mati 8 Wanita Atas Permintaannya

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran telah menghentikan rencana mengeksekusi mati delapan wanita yang ditangkap karena protes anti-pemerintah, setelah ia mendesak Teheran untuk membebaskan mereka guna membantu negosiasi perdamaian.

"Saya sangat menghargai bahwa Iran, dan para pemimpinnya, menghormati permintaan saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, dan menghentikan rencana eksekusi tersebut," tulisnya di platform Truth Social miliknya, dilansir kantor berita AFP, Kamis (23/4/2026).

Sebelumnya Iran telah membantah berencana untuk mengeksekusi para wanita tersebut.

- Militer AS Cegat 3 Kapal Tanker Minyak Iran di Perairan Asia

Militer Amerika Serikat dilaporkan telah mencegat setidaknya tiga kapal tanker minyak berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkan jalur mereka dari posisi mereka di dekat India, Malaysia dan Sri Lanka.

Demikian diungkapkan sumber-sumber perkapalan dan keamanan, seperti diberitakan kantor berita Reuters dan Al Arabiya, Kamis (23/4/2026).

Washington telah memberlakukan blokade terhadap perdagangan laut Iran, sementara Iran telah menembaki kapal-kapal untuk mencegah mereka berlayar melalui Selat Hormuz di pintu masuk Teluk Timur Tengah. Hampir dua bulan setelah AS dan Israel memulai perang mereka terhadap Iran, hanya ada sedikit tanda-tanda perundingan perdamaian akan dilanjutkan selama gencatan senjata yang tidak stabil.

- Tak Akur dengan Menhan, Menteri Angkatan Laut AS Mendadak Mundur

Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan bahwa Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat John Phelan akan meninggalkan jabatannya "segera".

Pengunduran diri Phelan ini menyusul pemecatan perwira tinggi Angkatan Darat AS, Jenderal Randy George, dan dua perwira senior lainnya awal bulan ini, di saat Amerika Serikat terlibat dalam perang dengan Iran.

"Phelan meninggalkan pemerintahan, berlaku segera," kata juru bicara Pentagon Sean Parnell dalam sebuah pernyataan di media sosial X, dilansir kantor berita AFP, Kamis (23/4/2026). Dia menambahkan bahwa ia akan digantikan sementara oleh Wakil Menteri Hung Cao.

- AS Bilang Butuh 6 Bulan untuk Bersihkan Selat Hormuz dari Ranjau Iran

Departemen Pertahanan Amerika Serikat memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu enam bulan untuk sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau-ranjau yang dipasang Iran. Hal ini dapat membuat harga minyak tetap tinggi.

Iran hampir sepenuhnya memblokir jalur air vital tersebut sejak dimulainya perang dengan Amerika Serikat dan Israel. Hal ini telah memicu kenaikan harga minyak dan gas serta mengganggu perekonomian global.

Dilansir Al Arabiya English, Kamis (23/4/2026), selat tersebut -- yang biasanya dilalui seperlima minyak dan gas dunia -- sebagian besar tetap tertutup selama gencatan senjata yang rapuh, dengan AS memberlakukan blokade sendiri.

- Heboh Rumor Trump Coba Gunakan Kode Nuklir Saat Rapat soal Iran

Beredar rumor bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump mencoba menggunakan kode nuklir selama rapat panas tentang krisis Iran pada hari Sabtu lalu. Seorang juru bicara Gedung Putih membantah klaim viral tersebut.

Klaim tersebut bermula dari pernyataan mantan perwira CIA, Larry Johnson selama kemunculannya pada 20 April di podcast "Judging Freedom". Saat itu, seperti dilaporkan Newsweek, Johnson mengklaim bahwa rapat darurat Gedung Putih pada 18 April diwarnai adu mulut, di mana Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, menolak perintah Trump yang melibatkan apa yang disebut kode nuklir.

Dilansir Al Arabiya English, Kamis (23/4/2026), menurut Johnson, perdebatan itu "cukup sengit," dengan jenderal tersebut menolak untuk memfasilitasi tindakan tersebut. Namun, tidak ada laporan independen atau konfirmasi resmi yang mendukung pernyataan tersebut. Meskipun pertemuan tingkat tinggi memang terjadi sekitar berakhirnya gencatan senjata Iran, tidak ada sumber kredibel yang memverifikasi bahwa wewenang peluncuran nuklir pernah digunakan.

Halaman 2 dari 2
(ita/ita)


Berita Terkait