Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, karena perang di Timur Tengah hingga kini belum mencapai kesepakatan. Salah satu penyebabnya karena syarat mengenai uranium.
Dirangkum detikcom, Sabtu (18/4/2026), dengan merangkum berbagai sumber, salah satunya TRT World, media terkemuka New York Times (NYT) dalam laporannya yang mengutip sejumlah pejabat AS dan Iran, Teheran disebut menawarkan pembekuan pengayaan uranium selama lima tahun, namun AS mendesak Teheran untuk menangguhkan pengayaan selama 20 tahun.
Sejumlah pejabat AS, yang dikutip NYT, mengungkapkan bahwa Washington dalam perundingan itu mendorong Iran untuk membekukan pengayaan uranium selama 20 tahun. Menurut dua pejabat senior Iran dan seorang pejabat AS yang dikutip NYT, Teheran dalam tanggapan resmi yang dikirimkan pada Senin (13/4) menawarkan jeda yang lebih singkat, yakni lima tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump, sebut seorang pejabat AS dalam laporan NYT, menolak proposal Iran tersebut. Washington juga menuntut agar Teheran memindahkan pasokan uranium yang sangat diperkaya dari wilayah mereka.
Namun, berdasarkan para pejabat yang dikutip NYT, Iran menolak tuntutan itu dan bersikeras agar pasokan uranium diperkaya tetap berada di dalam negeri, serta menawarkan untuk mengencerkannya secara signifikan hingga ke level yang tidak layak untuk digunakan sebagai senjata.
Para pejabat AS berpendapat bahwa kekhawatiran tetap ada soal Iran akan mempertahankan kemampuan untuk memperkaya uranium kembali di masa mendatang.
Selain mengungkapkan isi perundingan AS-Iran, laporan NYT juga menyebutkan bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan putaran selanjutnya untuk negosiasi tatap muka antara kedua negara sedang berlangsung. Namun sejauh ini, menurut NYT, belum ada tanggal yang disepakati.
AS Klaim Iran Setuju Serahkan Persediaan Uranium
Mengenai uranium ini bahkan kedua negara saling mengklaim. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Iran setuju menyerahkan persediaan uranium.
Dilansir AFP, Jumat (17/4), Trump menyatakan Teheran telah setuju untuk menyerahkan persediaan uranium. Trump mengatakan dia akan kembali ke Pakistan untuk menandatangani perjanjian tersebut.
Oleh karena itu, katanya, saat ini kedua negara sedang mempertimbangkan pembicaraan lebih lanjut di Islamabad.
"Kita sangat dekat untuk membuat kesepakatan dengan Iran," kata Trump.
"Kita harus memastikan bahwa Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir. Mereka sepenuhnya setuju dengan itu. Mereka telah menyetujui hampir semuanya, jadi mungkin jika mereka bisa duduk di meja perundingan, akan ada perbedaan," katanya.
Ketika ditanya apakah ia akan pergi ke Pakistan untuk menandatangani perjanjian, Trump mengatakan "Saya mungkin akan pergi, ya. Jika kesepakatan itu ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi," katanya.
Iran Bantah Klaim Trump Soal Penyerahan Uranium
Pernyataan Trump itu, langsung mendapat bantahan dari Kementerian Luar Negeri Iran. Iran menegaskan persediaan uranium yang diperkaya milik negara itu tidak akan dipindahkan "ke mana pun".
"Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei kepada televisi pemerintah Iran, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (18/4).
"Pemindahan uranium Iran yang diperkaya ke AS tidak pernah dibahas dalam negosiasi," cetusnya.
Sebelumnya, Trump mengunggah di platform Truth Social miliknya pada Jumat (17/4) pagi waktu setempat: "AS akan mendapatkan semua 'Debu' Nuklir, yang dihasilkan oleh pesawat-pesawat pengebom B2 hebat kita," merujuk pada uranium yang diperkaya, yang terkubur akibat serangan Amerika Serikat tahun lalu.
Namun, Baqaei mengatakan pembicaraan baru-baru ini berpusat pada penyelesaian konflik, dan bukan pada penyerahan persediaan uranium Iran.
"Negosiasi sebelumnya berfokus pada masalah nuklir, tetapi sekarang negosiasi berfokus pada mengakhiri perang, dan tentu saja cakupan topik yang dibahas menjadi lebih luas dan beragam," katanya.
"Rencana 10 poin untuk mencabut sanksi sangat penting bagi kami. Masalah kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang yang dipaksakan, sangat penting," ujarnya.
Ia juga mengkritik Trump karena mengunggah di platform Truth Social, bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku sampai kesepakatan damai dengan Teheran tercapai, meskipun Teheran telah menyatakan Selat Hormuz dibuka kembali.
"Pembukaan dan penutupan Selat Hormuz tidak terjadi di internet, itu ditentukan di lapangan, dan angkatan bersenjata kami tentu tahu bagaimana harus bertindak menanggapi tindakan apa pun dari pihak lain," tutur Baqaei.
"Apa yang mereka sebut blokade laut pasti akan ditanggapi dengan respons yang tepat dari Iran. Blokade laut adalah pelanggaran gencatan senjata dan Iran pasti akan mengambil tindakan yang diperlukan," tegasnya.











































