Inggris menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam blokade yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Selat Hormuz. Hal ini disampaikan pemerintah Inggris setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz usai gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran di Pakistan.
"Kami terus mendukung kebebasan navigasi dan pembukaan Selat Hormuz, yang sangat dibutuhkan untuk mendukung ekonomi global dan biaya hidup di dalam negeri," kata juru bicara pemerintah AS, seperti dikutip Sky News dan dilansir Anadolu Agency, Senin (13/4/2026).
"Selat Hormuz tidak boleh dikenakan tarif tol," tegas juru bicara pemerintah Inggris.
Juru bicara tersebut menambahkan bahwa Inggris "sedang bekerja secara mendesak" dengan Prancis dan beberapa mitra lainnya untuk membangun koalisi guna melindungi kebebasan navigasi.
Trump sebelumnya memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade jalur pelayaran penting Selat Hormuz, karena marah dengan penolakan Iran untuk melepaskan ambisi nuklirnya setelah perundingan damai di Pakistan berujung gagal tanpa kesepakatan.
Dalam pernyataan panjang di media sosialnya, Trump mengatakan tujuan akhir AS adalah membersihkan Selat Hormuz dari ranjau laut dan membukanya kembali untuk semua pelayaran, dengan Iran tidak boleh dibiarkan mengambil keuntungan dari kendalinya atas jalur perairan strategis tersebut.
"Berlaku efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses BLOKADE semua kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz. Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan HANCUR LEBUR!" tegas Trump.
(nvc/ita)