Serangan drone Iran menargetkan sebuah pangkalan udara di wilayah Kuwait, salah satu negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat (AS). Serangan Teheran untuk membalas pengeboman AS dan Israel itu dilaporkan melukai sedikitnya 15 tentara AS yang ditugaskan di pangkalan udara tersebut.
Iran menuduh AS berupaya mengecilkan, atau menutup-nutupi, jumlah korban jiwa di kalangan militernya akibat serangan pembalasan Teheran di kawasan Teluk.
CBS News, salah satu media terkemuka AS, seperti dilansir Press TV, Selasa (7/4/2026), melaporkan soal 15 tentara AS luka-luka di Kuwait dalam laporannya pada Senin (6/4) waktu setempat.
Laporan CBS News itu mengutip dua pejabat AS, yang tidak disebut namanya, yang mengidentifikasi target serangan drone Iran itu sebagai Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait, yang menjadi pusat operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRCG), menurut Press TV, telah melancarkan gelombang ke-98 serangan pembalasan, yang dinamai Operasi Janji Sejati 4, pada Senin (6/4) dengan menargetkan beberapa pesawat militer yang ditempatkan di pangkalan udara Kuwait dengan rudal dan drone.
Operasi pembalasan dimulai segera setelah AS dan Israel melancarkan gelombang serangan skala besar terhadap target-target di Iran pada 28 Februari lalu.
Teheran mengklaim operasi pembalasannya memberikan pukulan berat terhadap pangkalan militer dan kepentingan AS di seluruh kawasan Timur Tengah, serta target-target sensitif dan strategis di seluruh wilayah Israel.
Angkatan Bersenjata Iran bersumpah untuk melanjutkan serangan pembalasan hingga musuh-musuh Teheran mengalami "kekalahan total".
(nvc/ita)