Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ia sedang mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran. Trump sebelumnya telah memerintahkan peningkatan besar-besaran kekuatan angkatan laut Amerika Serikat di Timur Tengah, yang bertujuan untuk menekan Teheran agar mencapai kesepakatan untuk mengendalikan program nuklirnya.
Ancaman terbaru ini muncul setelah menteri luar negeri Iran mengatakan draf proposal untuk kesepakatan dengan Washington akan siap dalam beberapa hari, setelah negosiasi antara kedua pihak di Jenewa, awal pekan ini.
Trump sebelumnya mengisyaratkan pada hari Kamis (19/2) bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi, jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjangnya menjadi 15 hari.
Dilansir kantor berita AFP, Sabtu (21/2/2026), ketika ditanya oleh seorang reporter pada hari Jumat (20/2) apakah ia sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas, Trump menjawab: "Yang paling bisa saya katakan - saya sedang mempertimbangkannya."
Setelah pembicaraan di Jenewa, Teheran mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk menyerahkan draf perjanjian potensial, yang menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada media AS, akan menjadi "langkah selanjutnya."
"Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff," katanya, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah.
Araghchi juga mengatakan bahwa negosiator AS tidak meminta Teheran untuk mengakhiri program pengayaan nuklirnya, bertentangan dengan pernyataan dari para pejabat Amerika.
"Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak AS belum meminta nol pengayaan," katanya dalam sebuah wawancara yang dirilis hari Jumat (20/2) oleh jaringan TV AS, MS NOW.
(ita/ita)