Kapal Induk Terbesar Merapat, Sinyal Serangan AS ke Iran Kian Dekat?

Kapal Induk Terbesar Merapat, Sinyal Serangan AS ke Iran Kian Dekat?

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 22 Feb 2026 03:17 WIB
FILE - The aircraft carrier USS Gerald R. Ford heads to the Norfolk, Va., naval station on April 14, 2017. The USS Gerald R. Ford leaves the worlds largest Navy base in Norfolk on Monday, Oct. 3, 2022, along with destroyers and other warships, the U
Kapal induk USS Gerald R. Ford (Foto: Bill Tiernan/The Virginian-Pilot via AP, File)
Jakarta -

Kapal induk terbesar dunia milik Amerika Serikat (AS) memasuki laut Mediterania. Apakah ini sinyal serangan AS ke Iran kian dekat?

Dilansir AFP, Sabtu (21/2/2026), kapal induk USS Gerald R. Ford terlihat memasuki Laut Mediterania pada hari Jumat (20/2) waktu setempat. Kapal tersebut telah diperintahkan oleh Presiden AS Donald Trump untuk berangkat ke Timur Tengah sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer besar-besaran di tengah ketegangan dengan Iran.

Kapal induk tersebut terlihat melintasi Selat Gibraltar -- yang menghubungkan Samudra Atlantik ke Mediterania -- dalam foto yang diambil dari sisi Gibraltar di selat tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapal induk tersebut akan bergabung dengan kapal induk AS lainnya, USS Abraham Lincoln dan kapal-kapal perang pengiringnya yang telah lebih dulu tiba di kawasan Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran

Trump mengatakan pada hari Jumat (20/2) waktu setempat, bahwa ia "mempertimbangkan" serangan terbatas terhadap Iran, jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan.

Trump juga telah memerintahkan peningkatan besar-besaran kekuatan angkatan laut Amerika Serikat di Timur Tengah, yang bertujuan untuk menekan Teheran agar mencapai kesepakatan untuk mengendalikan program nuklirnya.

Ancaman terbaru ini muncul setelah menteri luar negeri Iran mengatakan draf proposal untuk kesepakatan dengan Washington akan siap dalam beberapa hari, setelah negosiasi antara kedua pihak di Jenewa, awal pekan ini.

Trump sebelumnya mengisyaratkan pada hari Kamis (19/2) bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi, jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjangnya menjadi 15 hari.

Ketika ditanya oleh seorang reporter pada hari Jumat (20/2) apakah ia sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas, Trump menjawab: "Yang paling bisa saya katakan - saya sedang mempertimbangkannya."

Setelah pembicaraan di Jenewa, Teheran mengatakan kedua pihak telah sepakat untuk menyerahkan draf perjanjian potensial, yang menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada media AS, akan menjadi "langkah selanjutnya."

"Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff," katanya, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah.

Araghchi juga mengatakan bahwa negosiator AS tidak meminta Teheran untuk mengakhiri program pengayaan nuklirnya, bertentangan dengan pernyataan dari para pejabat Amerika.

"Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak AS belum meminta nol pengayaan," katanya dalam sebuah wawancara yang dirilis hari Jumat (20/2) oleh jaringan TV AS, MS NOW.

"Yang sedang kita bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya," tambahnya.

Iran Ancam Serang Pangkalan-Aset AS Jika Diserang

Di tengah situasi panas ini, Pemerintah Iran mengingatkan bahwa pangkalan militer, fasilitas, dan aset-aset AS akan menjadi "target yang sah", jika Amerika Serikat menindaklanjuti ancaman dan serangan militernya.

Amir Saeid Iravani, Duta Besar (Dubes) Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyampaikan pernyataan tersebut dalam surat kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres dan presiden Dewan Keamanan.

Dilansir AFP, Jumat (20/2), surat Dubes Iran untuk Sekjen PBB tersebut mengutip unggahan media sosial Trump pada hari Rabu lalu, di mana ia mengatakan Amerika Serikat mungkin perlu menggunakan pangkalan militer Inggris, termasuk satu pangkalan di sebuah pulau di Samudra Hindia, "jika Iran memutuskan untuk tidak membuat kesepakatan."

"Pernyataan yang begitu agresif oleh Presiden Amerika Serikat... menandakan risiko nyata agresi militer, yang konsekuensinya akan membawa malapetaka bagi kawasan tersebut, dan akan merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional," tulis Iravani dalam surat tersebut.

Ia menyerukan Dewan Keamanan selaku badan pembuat keputusan tertinggi PBB, untuk "memastikan bahwa Amerika Serikat segera menghentikan ancaman penggunaan kekuatan yang melanggar hukum."

Dalam surat tersebut, dituliskan bahwa Iran tetap berkomitmen "pada solusi diplomatik" dan "atas dasar timbal balik, mengatasi ambiguitas mengenai program nuklir damainya."

Namun, Iravani mengingatkan bahwa jika Iran menghadapi agresi militer, "semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan itu akan menjadi target yang sah dalam konteks respons defensif Iran."

Halaman 2 dari 2
(lir/fas)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini