Perdana Menteri (PM) Thailand, Anutin Charnvirakul, meraih kemenangan telak dalam pemilu yang digelar pada Minggu (8/2) waktu setempat. Kemenangan ini meningkatkan prospek bahwa koalisi yang lebih stabil kini akan mampu mengakhiri periode ketidakstabilan politik yang berkepanjangan.
Anutin, seperti dilansir Reuters, Senin (9/2/2026), membubarkan parlemen dan menyerukan pemilu mendadak pada pertengahan Desember tahun lalu, di tengah konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Langkah itu, menurut para analis politik, disengaja untuk memanfaatkan gelombang nasionalisme yang meningkat.
Langkah tersebut akhirnya menjadi pertaruhan yang memberikan hasil yang baik bagi Anutin yang mengambil alih kekuasaan dari PM sebelumnya, Paetongtarn Shinawatra, dari partai populis Pheu Thai yang digulingkan karena percakapan telepon kontroversial dengan mantan pemimpin Kamboja.
Dengan hampir 95 persen tempat pemungutan suara (TPS) telah melaporkan hasil pemungutan suara, hasil sementara yang dirilis oleh Komisi Pemilu Thailand menunjukkan Partai Bhumjaithai yang dipimpin Anutin telah memenangkan sekitar 192 kursi.
Perolehan itu paling tinggi jika dibandingkan dengan Partai Rakyat yang progresif yang meraup 117 kursi dan Partai Pheu Thai, yang didirikan oleh Thaksin Shinawatra, yang mendapatkan 74 kursi.
Menurut penghitungan Reuters berdasarkan data Komisi Pemilu. sejumlah partai politik lainnya meraup 117 kursi dalam parlemen Thailand, yang total memiliki 500 anggota.
"Kemenangan Bhumjaithai hari ini adalah kemenangan bagi seluruh rakyat Thailand, baik Anda memilih Partai Bhumjaithai atau tidak," kata Anutin dalam konferensi pers yang digelar di markas besar Partai Bhumjaithai di Bangkok.
"Kita harus melakukan yang terbaik untuk melayani rakyat Thailand dengan kemampuan kita sepenuhnya," cetusnya.
(nvc/ita)