Militer Israel mengusulkan rencana untuk mengevakuasi warga sipil dari Jalur Gaza. Demikian diumumkan kantor Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin (26/2), setelah dia mengatakan invasi darat ke kota Rafah di Gaza bagian selatan diperlukan untuk "kemenangan total".
Pemerintah asing dan organisasi bantuan telah berulang kali menyatakan kekhawatirannya bahwa operasi semacam itu akan menimbulkan banyak korban sipil.
Lebih dari 1,4 juta warga Palestina - sebagian besar dari mereka adalah pengungsi dari tempat-tempat lain di Gaza - saat ini berkumpul di Rafah, kota terakhir Gaza yang tidak tersentuh oleh pasukan darat Israel.
Kota ini juga merupakan pintu masuk bagi bantuan yang sangat dibutuhkan, yang disalurkan melalui negara tetangga, Mesir.
Militer Israel "menyampaikan kepada Kabinet Perang, sebuah rencana untuk mengevakuasi penduduk dari daerah pertempuran di Jalur Gaza, dan rencana operasional yang akan datang", demikian menurut pernyataan dalam bahasa Ibrani dari kantor Netayahu, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (26/2/2024).
Pernyataan itu tidak memberikan rincian mengenai bagaimana atau ke mana warga sipil akan dipindahkan.
Pengumuman tersebut muncul setelah para "ahli" Mesir, Qatar dan Amerika Serikat bertemu di Doha, Qatar untuk melakukan pembicaraan yang juga dihadiri oleh perwakilan Israel dan Hamas. Ini merupakan upaya terbaru untuk mencapai gencatan senjata sebelum bulan suci Ramadan.
Sekutu Israel, Amerika Serikat, mengatakan upaya mediasi yang sedang berlangsung menghasilkan "kesepahaman" menuju gencatan senjata dan pembebasan sandera. Sementara sumber Hamas mengatakan kelompok tersebut bersikeras pada penarikan pasukan Israel.
Lihat juga Video 'Pria Bakar Diri di Depan Kedubes Israel di AS':
(ita/ita)