Terpaksa Patuhi Taliban, Presenter TV Afghanistan Tutupi Wajah Saat Siaran

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 22 Mei 2022 15:04 WIB
A woman wearing a burka walks through a bird market as she holds her child, in downtown Kabul, Afghanistan, Sunday, May 8, 2022. Afghanistan’s Taliban rulers on Saturday ordered all Afghan women to wear head-to-toe clothing in public — a sharp, hard-line pivot that confirmed the worst fears of rights activists and was bound to further complicate Taliban dealings with an already distrustful international community. (AP Photo/Ebrahim Noroozi)
Foto: Aturan baru bagi wanita di Afghanistan (AP/Ebrahim Noroozi)
Jakarta -

Para presenter wanita di Afghanistan mulai menutupi wajah mereka saat siaran langsung di TV. Mereka sebelumnya menentang kebijakan baru Taliban yang meminta mereka tidak menunjukkan wajah saat siaran.

Dilansir kantor berita AFP, Minggu (22/5/2022), Taliban memberlakukan banyak pembatasan pada publik sejak merebut kekuasaan Afghanistan sejak tahun lalu. Banyak kebijakan dianggap mengekang hak-hak perempuan.

Saluran berita terkemuka seperti TOLOnews, Ariana Television, Shamshad TV, dan 1TV awalnya menentang kebijakan baru Taliban. Namun belakangan mereka terpaksa melakukannya.

"Kami melawan dan menentang pemakaian masker. Tetapi TOLOnews ditekan dan diberitahu bahwa presenter wanita mana pun yang muncul di layar tanpa menutupi wajahnya harus diberi pekerjaan lain atau dihilangkan begitu saja. TOLOnews terpaksa dan kami terpaksa memakainya," ucap Sonia Niazi, presenter TOLOnews kepada AFP.

Solidaritas dari Jurnalis Pria

Seorang koresponden AFP mengatakan bila saat itu jurnalis dan karyawan TOLOnews mengenakan masker wajah di kantor sebagai bentuk solidaritas pada para presenter wanita. Di sisi lain Juru Bicara Kementerian Kebaikan dan Kebajikan Taliban, Mohammad Akif Sadeq Mohajir, menyambut baik apa yang telah dilakukan saluran-saluran media itu.

"Kami senang dengan saluran media bahwa mereka menerapkan tanggung jawab ini dengan cara yang baik," katanya kepada AFP.

"Kami tidak berniat menyingkirkan mereka dari tempat umum atau mengesampingkan mereka atau melucuti hak mereka untuk bekerja," imbuhnya.

Dekrit Akhundzada memerintahkan pihak berwenang untuk memecat pegawai pemerintah wanita jika mereka gagal mengikuti aturan berpakaian. Laki-laki yang bekerja di pemerintahan juga berisiko diskors jika istri atau anak perempuan mereka tidak patuh. Pihak berwenang juga mengatakan bahwa manajer media dan wali dari pembawa acara perempuan yang membangkang akan bertanggung jawab atas hukuman jika diktat tidak dipatuhi.

Wanita di Afghanistan telah mengejar pekerjaan dan pendidikan setelah pemerintah Taliban digulingkan pada tahun 2001 menyusul invasi dipimpin Amerika Serikat (AS). Pendidikan dan pekerjaan bagi wanita dilarang di bawah pemerintahan Taliban pada saat itu.

Taliban mengatakan telah berubah sejak aturan terakhirnya. Tetapi baru-baru, Taliban menambahkan peraturan seperti membatasi pergerakan perempuan tanpa pendamping laki-laki. Anak perempuan yang lebih tua di atas 13 tahun juga belum diizinkan kembali ke sekolah dan perguruan tinggi.

Simak juga 'Taliban Wajibkan Burqa, Wanita Afghanistan Turun ke Jalan':

[Gambas:Video 20detik]



(dhn/dhn)