Taliban Perintahkan Presenter TV Wanita Tutupi Wajah Saat Siaran

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 19 Mei 2022 23:09 WIB
A woman wearing a burka walks through a bird market as she holds her child, in downtown Kabul, Afghanistan, Sunday, May 8, 2022. Afghanistan’s Taliban rulers on Saturday ordered all Afghan women to wear head-to-toe clothing in public — a sharp, hard-line pivot that confirmed the worst fears of rights activists and was bound to further complicate Taliban dealings with an already distrustful international community. (AP Photo/Ebrahim Noroozi)
Aturan baru bagi wanita di Afghanistan (Foto: AP/Ebrahim Noroozi)
Kabul -

Otoritas Taliban telah meminta penyiar televisi untuk memastikan bahwa presenter perempuan di stasiun lokal menutupi wajah mereka saat siaran. Hal itu disampaikan pejabat Taliban yang kini menguasai Afghanistan.

Dilansir Reuters, Kamis (19/5/2022), langkah itu dilakukan beberapa hari setelah pihak berwenang memerintahkan perempuan untuk menutupi wajah mereka di depan umum, kembali ke kebijakan garis keras Taliban di masa lalu dan eskalasi pembatasan yang menyebabkan kemarahan di dalam dan luar negeri.

"Kemarin kami bertemu dengan pejabat media, mereka menerima saran kami dengan sangat gembira," kata juru bicara Kementerian Kebaikan dan Kebajikan Taliban, Akif Mahajar, yang menambahkan langkah ini akan diterima dengan baik oleh warga Afghanistan.

Dia menyebut langkah itu sebagai 'saran'. Mahajar mengatakan batas waktu untuk menutup wajah presenter wanita adalah 21 Mei.

"Tanggal terakhir untuk penutup wajah untuk presenter TV adalah 21 Mei," ujarnya.

Dia tidak menanggapi pertanyaan tentang apa konsekuensinya jika tidak mengikuti saran tersebut. Sebagian besar wanita Afghanistan mengenakan jilbab karena alasan agama, tetapi banyak di daerah perkotaan seperti Kabul tidak menutupi wajah mereka.

Selama pemerintahan terakhir Taliban dari tahun 1996 hingga 2001, adalah kewajiban bagi wanita untuk mengenakan burqa. Mahajar mengatakan presenter wanita bisa memakai masker wajah medis, seperti yang telah banyak digunakan selama pandemi COVID-19.

Wanita di Afghanistan telah mengejar pekerjaan dan pendidikan setelah pemerintah Taliban digulingkan pada tahun 2001 menyusul invasi dipimpin Amerika Serikat (AS). Pendidikan dan pekerjaan bagi wanita dilarang di bawah pemerintahan Taliban pada saat itu.

Taliban mengatakan telah berubah sejak aturan terakhirnya. Tetapi baru-baru, Taliban menambahkan peraturan seperti membatasi pergerakan perempuan tanpa pendamping laki-laki.

Anak perempuan yang lebih tua di atas 13 tahun juga belum diizinkan kembali ke sekolah dan perguruan tinggi. Seorang karyawan wanita saluran televisi lokal, yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan pejabat Taliban telah mengunjungi kantor mereka.

"Hari ini (Kamis) bagian produksi pakai masker tapi kantor berita tetap berjalan seperti biasa," kata karyawan tersebut. Beberapa saluran sudah mulai menerapkan aturan baru.

(haf/haf)