International Updates

Myanmar Sunyi Senyap, Ganasnya Corona di Prancis Sehari 61.340 Kasus

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 10 Des 2021 18:30 WIB
Aktivis menyerukan orang-orang untuk tinggal di rumah dan bisnis tutup untuk memprotes pengambilalihan militer Myanmar yang menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi, Jumat, (10/12/2021). Aksi ini juga menandai Hari Hak Asasi Manusia Internasional. (AP Photo)
Myanmar sunyi senyap (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Para demonstran anti-kudeta di Myanmar melakukan aksi "mogok senyap" pada hari Jumat, dengan menutup bisnis dan mengosongkan jalan-jalan di berbagai kota untuk memprotes kekuasaan junta militer.

Negara Asia Tenggara itu telah berada dalam kekacauan sejak kudeta militer pada Februari lalu. Menurut kelompok pemantau lokal, lebih dari 1.300 orang tewas oleh pasukan keamanan sejak kudeta tersebut.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (10/12/2021), jalan-jalan di pusat kota Yangon -- pusat komersial Myanmar -- sepi, tanpa pedagang kaki lima dan hanya sedikit lalu lintas.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Jumat (10/12/2021):

- Mahkamah Independen Sebut Xi Jinping Bertanggung Jawab Atas Genosida Uighur

Mahkamah independen yang berbasis di London, Inggris, menetapkan Presiden China, Xi Jinping, memikul tanggung jawab utama atas apa yang disebut sebagai genosida, kejahatan kemanusiaan dan penyiksaan terhadap warga Muslim Uighur dan minoritas lainnya di Xinjiang.

Seperti dilansir Reuters dan CNN, Jumat (10/12/2021), mahkamah yang terdiri atas para pengacara dan akademisi yang bertindak sebagai juri pengadilan itu digelar di London sepanjang tahun ini. Selama persidangan berlangsung, para juri pengadilan meninjau bukti dan testimoni terkait perlakuan China terhadap Uighur.

"Republik Rakyat China (RRC) telah melakukan genosida, kejahatan kemanusiaan dan penyiksaan terhadap Uighur, Kazakh dan warga etnis minoritas lainnya di wilayah China bagian barat laut yang dikenal sebagai Xinjiang," demikian pernyataan mahkamah non-pemerintah yang juga disebut Mahkamah Uighur ini.

- Tentara Myanmar Dikabarkan Bunuh-Bakar 11 Orang, AS Marah!

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengecam militer Myanmar terkait laporan tentaranya mengumpulkan dan membunuh 11 orang di wilayah Sagaing. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, menyatakan AS 'marah' dengan tindak kekejian militer Myanmar tersebut.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (10/12/2021), tentara Myanmar dituduh menembak mati dan membakar mayat belasan orang di sebuah desa di Sagaing, setelah sejumlah mayat yang hangus terbakar ditemukan di wilayah tersebut.

Sebuah video yang disebut menunjukkan mayat-mayat yang hangus terbakar itu beredar di media sosial dan foto-fotonya dipublikasikan sejumlah media lokal, termasuk Myanmar News yang terkemuka di negara tersebut.

"Kami marah dengan laporan yang kredibel dan memuakkan bahwa militer Burma (Myanmar-red) mengikat 11 warga desa, termasuk anak-anak, di Burma bagian barat lalu dan membakar mereka hidup-hidup," tegas Price dalam pernyataannya.

- Tegang! Jet Tempur Rusia Usir Pesawat Militer AS-Prancis di Laut Hitam

Militer Rusia mengerahkan sejumlah jet tempurnya untuk mengawal dan mengusir lima pesawat militer Amerika Serikat (AS) dan Prancis menjauhi perbatasannya. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan memuncak terkait konflik di Ukraina.

Seperti dilansir AFP, Jumat (10/12/2021), pesawat-pesawat militer AS dan Prancis itu terdeteksi mengudara di atas Laut Hitam, dekat perbatasan Rusia, pada Kamis (9/12) waktu setempat.