Presiden Tebboune Desak Prancis Hormati Aljazair Secara Total

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 03:39 WIB
Algerian President Abdelmadjid Tebboune meets with the visiting French Foreign Minister (unseen) in the capital Algiers on January 21, 2020. - Le Drian arrived to Algiers for a brief visit to discuss bilateral and regional issues, starting with the Libyan crisis and the Sahel. (Photo by RYAD KRAMDI / AFP)
Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune (Foto: AFP/RYAD KRAMDI)
Aljir -

Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune menuntut "penghormatan total" dari Prancis. Pernyataan itu menyusul perselisihan tentang visa dan komentar kritis dari Paris tentang negara Afrika Utara itu.

Kembalinya duta besar Aljazair ke Prancis bergantung pada "penghormatan total terhadap negara Aljazair," kata Tebboune kepada media lokal seperti dilansir AFP, Senin (11/10/2021).

"Kami lupa bahwa (Aljazair) pernah menjadi koloni Prancis... Sejarah tidak boleh dipalsukan," tambah presiden.

Aljazair pada akhir pekan lalu menarik duta besarnya dari Paris. Mereka juga melarang pesawat militer Prancis dari wilayah udaranya di tengah ketegangan dengan Paris.

"Kami tidak bisa bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa," kata Tebboune dalam reaksi publik pertamanya terhadap perselisihan dengan Prancis mengenai sejarah Aljazair dan masa lalu kolonial Prancisnya.

Sebelumnya, Aljazair memanggil duta besarnya untuk Prancis dalam rangka konsultasi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes Aljazair atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai tidak dapat diterima.

"Menyusul komentar beberapa sumber yang dikaitkan dengan Macron, Aljazair menyatakan penolakan terhadap campur tangan yang tidak dapat diterima dalam urusan internalnya," kata kepresidenan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters dan AFP, Minggu (3/10).

"Menghadapi situasi yang sangat tidak dapat diterima yang ditimbulkan oleh pernyataan tidak bertanggung jawab ini, Presiden Abdelmadjid Tebboune memutuskan untuk segera memanggil duta besar," sambung pernyataan tersebut.

Keputusan itu diambil Aljazair pasca sejumlah laporan media terkait komentar Macron terhadap negaranya. Harian Prancis Le Monde melaporkan bahwa dalam pertemuan dengan dengan keturunan tokoh-tokoh perang kemerdekaan, Macron menyampaikan pernyataan keras tentang negara bekas jajahan Prancis itu.

Macron juga menyebut Aljazair diperintah oleh sistem politik-militer dan menggambarkan Aljazair memiliki 'sejarah resmi' yang telah 'benar-benar ditulis ulang'.

"Sejarah ini tidak didasarkan pada kebenaran tetapi pada wacana kebencian terhadap Prancis," kata Macron, meski menjelaskan tidak mengacu pada masyarakat Aljazair secara keseluruhan tetapi pada elit penguasa.

Tonton juga Video: 65 Orang Tewas Akibat Kebakaran Hutan di Aljazair

[Gambas:Video 20detik]



(lir/lir)