Warga Brasil Demo Tuntut Pemakzulan Presiden Bolsonaro

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Minggu, 03 Okt 2021 05:16 WIB
Rio de Janeiro -

Warga Brasil turun ke jalan-jalan di seluruh negeri melakukan unjuk rasa. Mereka menyerukan penggulingan Presiden Jair Bolsonaro.

Dilansir AFP, Minggu (3/10/2021) kerumunan besar terjadi di Rio de Janeiro, Sao Paulo, Brasilia dan lebih dari 160 kota lainnya. Kerumunan itu sebagai bagian dari "Kampanye Nasional Bolsonaro Out," yang didukung oleh selusin partai politik sayap kiri dan kelompok buruh.

Di antara isu-isu lain, presiden sayap kanan itu mendapat kritik pedas atas penanganannya terhadap pandemi. Di mana pandemi telah merenggut hampir 600.000 nyawa di Brasil.

Ratusan orang berbaris melalui pusat lingkungan Rio de Janeiro di Candelaria. Mereka meneriakkan "Bolsonaro out!" yang juga terpampang di beberapa spanduk besar.

"Kami akan menjatuhkannya. Harapan orang-orang di jalanan ini adalah untuk menekan legislator sehingga mereka menyerukan pemakzulan," kata pensiunan profesor Elizabeth Simoes (69) kepada AFP.

Lebih dari 100 permintaan untuk pemakzulan Bolsonaro telah diajukan ke Kamar Deputi. Akan tetapi pemimpinnya Arthur Lira, sekutu pemerintah, menolak untuk menerimanya.

Mahkamah Agung telah memerintahkan beberapa penyelidikan terhadap Bolsonaro dan para pembantunya. Penyidikan itu termasuk karena menyebarkan informasi palsu.

Bendera merah Partai Buruh mantan presiden Luiz Inacio Lula da Silva, atau Lula terlihat pada demo itu, bersama dengan bendera Brasil. Selain itu, tanda-tanda beberapa partai sayap kiri dan tengah lainnya yang sering terlihat pada protes terhadap Bolsonaro sayap kanan, juga dibawa oleh massa aksi.

Akan tetapi, para pendukung presiden juga telah memberikan dukungannya dalam beberapa pekan terakhir. Sekitar 125.000 dari mereka berkumpul di Brasilia dan Sao Paulo pada 7 September untuk menunjukkan dukungan bagi Bolsonaro.

Sebuah jajak pendapat pertengahan September oleh Datafolha Institute menemukan bahwa Bolsonaro mendapat dukungan 26 persen dibandingkan dengan 44 persen Lula. Hal itu terjadi hanya satu tahun menjelang pemilihan presiden.

(lir/lir)