Round-Up

Kasus Temuan Jasad Anak di Kanada Berbuntut Desakan Maaf ke Paus

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 26 Jun 2021 23:30 WIB
Canada Prime Minister Justin Trudeau responds to questions during a news conference at the National Press building in Ottawa, Thursday Jan. 9, 2020.  U.S. and Canadian officials say it is “highly likely” that an Iranian anti-aircraft missile downed a Ukrainian jetliner late Tuesday, killing all 176 people on board.  Trudeau, whose country lost at least 63 citizens in the crash, said evidence indicates the plane was struck by a surface-to-air missile. (Adrian Wyld/The Canadian Press via AP)
Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau (Adrian Wyld/The Canadian Press via AP)
Ottawa -

Perdana Menteri (PM) Kanada, Justin Trudeau, sudah meminta Vatikan mohon maaf atas temuan ratusan jasad di sekolah Katolik negaranya. Kini, Trudeau mendesak Paus Fransiskus untuk tak hanya meminta maaf, tapi juga meminta Paus datang ke Kanada dan meminta maaf langsung ke pribumi atas peristiwa di masa lalu.

Sebagaimana diketahui, Kanada ada di Benua Amerika, benua yang menjadi bancakan pendatang Eropa pada abad-abad lalu. Padahal, benua itu sudah ada penghuninya yaitu orang pribumi, termasuk Suku Inuit dan Metis di Kanada, belakangan mereka diakui sebagai pribumi 'First Nations'.

Soal Kanada, negara ini punya sejarah kolonialisme serupa, saat pribumi dipaksa belajar untuk berasimilasi dengan pendatang. Pribumi di Kanada yang biasa disebut orang awam sebagai 'Indian' dan 'Eskimo' itu juga masuk sekolah.

Komisi penyelidikan yang dikutip AFP bilang, Kanada telah melakukan genosida budaya terhadap masyarakat pribumi. 150 ribu anak-anak pribumi dipaksa menghadiri sekolah-sekolah Kristen (sebagian besar Katolik Roma) yang didanai negara. Pribumi harus kehilangan lahan dan nyawa di masa lalu.

Temuan-temuan ini mengonfirmasinya, simak pula desakan Trudeau ke Paus: