751 Jasad Kembali Ditemukan di Bekas Sekolah Kanada

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 23:53 WIB
Ilustrasi makam
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Saskatchewan -

Para pimpinan kelompok Pribumi Kanada mengatakan para penyelidik telah menemukan 751 kuburan tak bertanda di lokasi bekas sekolah tempat tinggal anak-anak pribumi di Saskatchewan. Bulan lalu 215 jasad anak juga ditemukan di sebuah sekolah di British Columbia.

"Ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, serangan terhadap First Nations," kata Ketua Federation of Sovereign Indigenous First Nations, Bobby Cameron, seperti dilansir AP News, Kamis (24/6/2021).

Dia berharap lebih banyak kuburan lagi yang ditemukan di halaman sekolah di seluruh Kanada. Cameron mengatakan pihaknya akan terus melakukan investigasi.

"Kami tidak akan berhenti sampai kami menemukan semua mayat," jelasnya.

Mayat-mayat itu ditemukan di Marieval Indian Residential School. Sekolah itu beroperasi dari tahun 1899 hingga 1997 di mana Cowessess First Nation sekarang berada. Daerah itu berada sekitar 85 mil sebelah timur Regina, ibu kota Saskatchewan.

Kepala Cadmusn Delmore dari Cowessess mengatakan bahwa kuburan-kuburan telah diberi tanda. Akan tetapi Gereja Katolik Roma yang mengoperasikan sekolah tersebut telah menghapus penanda tersebut.

"Paus perlu meminta maaf atas apa yang terjadi," katanya.

"Permintaan maaf adalah salah satu tahap dalam perjalanan penyembuhan," sambungnya.

Untuk diketahui, bulan lalu jasad 215 anak, yang beberapa di antaranya berusia 3 tahun, ditemukan terkubur di lokasi yang dulunya merupakan sekolah perumahan pribumi terbesar di Kanada. Lokasi sekolah itu berada dekat Kamloops, British Columbia.

Menyusul penemuan itu, Paus Fransiskus mengungkapkan rasa sakitnya atas penemuan itu dan menekan otoritas agama dan politik untuk menjelaskan "perselingkuhan yang menyedihkan ini."

Akan tapi dia tidak menyampaikan permintaan maaf yang diminta oleh First Nations dan Perdana Menteri Kanada.

Dari abad ke-19 hingga 1970-an, lebih dari 150.000 anak-anak Pribumi dipaksa menghadiri sekolah-sekolah Kristen yang didanai negara. Sekolah itu sebagian besar dijalankan oleh jemaat misionaris Katolik Roma, dalam kampanye untuk mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat Kanada.

Pemerintah Kanada telah mengakui bahwa kekerasan fisik dan seksual merajalela di sekolah-sekolah. Di mana pada kekerasan itu siswa dipukuli karena berbicara bahasa ibu mereka.

(lir/haf)