Round-Up

China Tak Terima Bila Paman Sam Sembarangan soal Asal-usul Corona

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 24 Jun 2021 05:43 WIB
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium.
Ilustrasi (Foto: Agung Pambudhy)

Amerika Sebut China Tempat Asal Virus Corona, Biden Minta Ada Penyelidikan

Sebuah laporan soal asal-usul virus Corona (COVID-19) yang disusun laboratorium nasional pemerintah Amerika Serikat (AS) menyimpulkan hipotesis yang mengklaim virus Corona bocor dari sebuah laboratorium di Wuhan, China, adalah masuk akal dan layak untuk diselidiki lebih lanjut.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (8/6/2021), laporan itu diungkapkan oleh media terkemuka AS, The Wall Street Journal (WSJ), dengan mengutip sejumlah sumber yang memahami isi dokumen rahasia tersebut.

Laporan yang merupakan hasil kajian Laboratorium Nasional Lawrence Livermore di California, AS, itu dipersiapkan sejak Mei 2020 dan dirujuk oleh Departemen Luar Negeri AS ketika mereka melakukan penyelidikan soal asal-usul Corona pada bulan-bulan terakhir pemerintahan mantan Presiden Donald Trump.

Menurut WSJ, hasil kajian Lawrence Livermore itu mengacu pada analisis genomika virus Corona.

Pihak Laboratorium Nasional Lawrence Livermore menolak untuk mengomentari laporan WSJ.

Bulan lalu, Presiden Joe Biden memerintahkan penyelidikan lebih lanjut untuk mencari jawaban soal asal-usul virus Corona. Biden menyerukan lebih banyak informasi intelijen soal asal-usul virus Corona, mencakup teori kebocoran laboratorium, yang dikumpulkan dan dianalisis sebelum dilaporkan kepadanya.

President Joe Biden speaks about reaching 300 million COVID-19 vaccination shots, in the State Dining Room of the White House, Friday, June 18, 2021, in Washington. (AP Photo/Evan Vucci)Presiden AS Joe Biden (AP Photo/Evan Vucci) Foto: AP Photo/Evan Vucci

Pada saat itu, Biden mengungkapkan bahwa badan-badan intelijen AS tengah mempertimbangkan dua skenario paling mungkin -- antara virus Corona dihasilkan dari insiden laboratorium atau muncul dari kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi -- namun mereka belum mencapai kesimpulan yang pasti.


(eva/eva)