Para Dokter Jepang Ingatkan Potensi Muncul Varian Corona di Olimpiade Tokyo

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 28 Mei 2021 00:25 WIB
TOKYO, JAPAN - MAY 17: Police officers works on a car during a protest against the Tokyo Olympics on May 17, 2021 in Tokyo, Japan. With less than 3 months remaining until the Tokyo Olympics, a recent survey has indicated that around 60 percent of Japanese people do not want the Games to go ahead. Although it marks a drop in an earlier survey in which around 80 percent of people believed the  Olympics and Paralympics should be cancelled or rescheduled, concern continues to linger in Japan over the feasibility of hosting such a huge event during the ongoing Covid-19 pandemic. (Photo by Yuichi Yamazaki/Getty Images)
Demo tolak limpiade Tokyo di Jepang (Foto: Getty Images/Yuichi Yamazaki)
Tokyo -

Seorang dokter yang mewakili badan medis Jepang memperingatkan bahwa penyelenggaraan Olimpiade Tokyo berpotensi memunculkan varian baru virus Corona. Hal itu disampaikan oleh Dr. Naoro Ueyama, ketua Persatuan Dokter Jepang.

Dilansir kantor berita AP, Kamis (27/5/2021). Ueyama mengatakan Komite Olimpiade Internasional dan pemerintah Jepang telah meremehkan risiko membawa 15.000 atlet Olimpiade dan Paralimpiade ke negara itu. Kehadiran juga diikuti oleh puluhan ribu pejabat, wasit, media dan penyiar dari lebih dari 200 negara dan wilayah.

"Sejak munculnya COVID-19 belum pernah ada pertemuan berbahaya, orang-orang yang berkumpul di satu tempat dari begitu banyak tempat di seluruh dunia," kata Ueyama saat berbicara di Tokyo di Klub Koresponden Asing Jepang.

"Sangat sulit untuk memprediksi apa yang bisa ditimbulkannya," tambahnya.

Ueyama kerap kali menyamakan virus Corona dengan situasi "perang konvensional", dan mengatakan dia berbicara dari pengalamannya sendiri sebagai dokter rumah sakit yang bekerja di luar Tokyo. Dia mengaku tidak pernah terlibat dalam perencanaan Olimpiade.

"Saya pikir kuncinya di sini adalah jika strain mutan baru dari virus (Corona) muncul sebagai akibat dari Olimpiade," katanya.

IOC dan penyelenggara lokal mengatakan mereka telah mengandalkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk panduan kesehatan masyarakat. Mereka mengatakan Olimpiade dan Paralimpiade akan "aman dan terjamin," berfokus pada pengujian ekstensif, protokol kesehatan ketat, jarak sosial, dan menjaga para atlet yang sebagian besar terisolasi di Desa Olimpiade di sepanjang Teluk Tokyo.

IOC mengatakan mereka mengharapkan lebih dari 80% orang yang tinggal di desa akan divaksinasi. Ini kontras dengan peluncuran yang sangat lambat di Jepang di mana kurang dari 5% masyarakat telah divaksinasi.

Ueyama, yang merupakan ketua badan yang mewakili 130 dokter, bergabung dengan pakar medis lain di Jepang dalam menyuarakan penolakan untuk menyelenggarakan Olimpiade. Pada hari Rabu, surat kabar Asahi Shimbun yang beredar secara massal di Jepang menyerukan agar Olimpiade dibatalkan.

Awal pekan ini, New England Journal of Medicine mengatakan dalam sebuah komentar: "Kami percaya tekad IOC untuk melanjutkan Olimpiade tidak diinformasikan oleh bukti ilmiah terbaik," katanya.

Hal itu mempertanyakan apa yang disebut PlayBooks IOC, yang menguraikan aturan di pertandingan untuk atlet, staf, media dan lain-lain. Edisi terakhir akan diterbitkan bulan depan.

"Pedoman IOC tidak dibangun di atas penilaian risiko yang ketat secara ilmiah, dan gagal mempertimbangkan cara terjadinya penularan, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penularan, dan peserta mana yang mungkin berada pada risiko tertinggi," tulis publikasi tersebut.

Selanjutnya
Halaman
1 2