Sebulan Mogok Makan, Aktivis yang Ditahan Thailand Dilarikan ke RS

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Sabtu, 01 Mei 2021 01:51 WIB
Anti-government protesters parade on motorcycles during a rally near the Democracy Monument in Bangkok, Thailand, Wednesday, Oct. 14, 2020. Anti-government protesters began gathering Wednesday for a planned rally at Bangkok’s Democracy Monument being held on the anniversary of a 1973 popular uprising that led to the ousting of a military dictatorship, amid a heavy police presence and fear of clashes with political opponents. (AP Photo/Gemunu Amarasinghe)
Ilustrasi/Demo di Thailand (Foto: AP Photo/Gemunu Amarasinghe)
Bangkok -

Seorang aktivis pro-demokrasi Thailand, Parit Chiwarak dilarikan ke rumah sakit (RS) pada Jumat waktu setempat. Aktivis yang ditahan atas tuduhan pencemaran nama baik kerajaan itu jatuh sakit lantaran mogok makan selama satu bulan terakhir.

Dilansir AFP, Jumat (30/2/2021) Parit Chiwarak yang dikenal dengan julukan 'Pinguin' telah ditahan sejak Februari lalu di bawah undang-undang lese majeste Thailand.

Perit menghadapi belasan dakwaan atas perannya dalam protes tahun lalu terhadap Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha. Dia menyerukan perubahan pada Monarki Thailand yang sejak dulu tidak bisa disangkal.

Parit telah kehilangan berat badan lebih dari 12 kilogram sejak dia mulai mogok makan pada 16 Maret. Dia dipindahkan ke rumah sakit pada Jumat waktu setempat di tengah kesehatannya yang dikhawatirkan akan terus memburuk.

"Dokter dan perawat khawatir dia bisa mengalami syok, jadi mereka setuju bahwa dia harus diwarat di rumah sakit di luar penjara untuk menerima perawatan dari dokter ahli," kata Wakil Direktur Jenderal Departemen Pemasyarakatan, Thawatchai Chaiyawat kepada wartawan.

Demonstrasi yang dipimpin mahasiswa di Bangkok tahun lalu menarik puluhan ribu orang turun ke jalan. Namun gerakan tersebut telah mereda tahun ini di tengah meningkatnya pembatasan pertemuan publik karena meningkatnya kasus COVID-19.

Gerakan tersebut mendobrak tabu yang telah lama dipegang dengan menyerukan reformasi monarki, di Thailand di mana keluarga kerajaan dianggap tak tersentuh dan telah diperlakukan dengan hormat selama beberapa dekade.

Raja dan keluarganya dilindungi oleh hukum lese majeste kerajaan yang keras, yang memberlakukan hukuman penjara hingga 15 tahun per dakwaan.

(lir/lir)