Demo Tuntut Reformasi di Kompleks Istana Raja Thailand, Massa-Polisi Bentrok

Ilman Nafian - detikNews
Sabtu, 20 Mar 2021 23:19 WIB
Pengunjuk rasa pro-demokrasi mencoba untuk menghapus pagar barikade di samping api dari bom molotov yang dilemparkan selama bentrokan dengan polisi anti huru hara pada demonstrasi anti-pemerintah di Bangkok pada 20 Maret 2021. (Lillian Suwan/AFP)
Foto: (AFP/LILLIAN Suwanrumpha)
Bangkok -

Aksi unjuk rasa yang digelar di sekitar kompleks istana raja, Grand Palace, Bangkok Thailand berujung ricuh. Unjuk rasa itu dilakukan untuk menuntut reformasi monarki kerajaan.

Dilansir AFP, Sabtu (20/3/2021), polisi menggunakan meriam air dan menembakan peluru karet untuk membubarkan para demonstran. Sebelum bentrokan terjadi, para demonstran berusaha membuka deretan pagar yang dibuat polisi sebagai blokade.

"Kamu melanggar hukum!" kata polisi kepada demonstran yang berusaha membuka blokade.

Kericuhan terjadi setelah para demonstran berhasil membuka blokade. Para demonstran kemudian melempar bom molotov ke arah polisi yang berjaga.

Mobil water canon kemudian menyemprotkan meriam air untuk menghalau massa yang mendekat. Para demonstran kemudian berteriak agar teman-teman mereka yang ditahan untuk dibebaskan.

"Bebaskan teman-teman kami!" teriak pengunjuk rasa, merujuk pada para pemimpin terkemuka yang telah ditahan sejak awal tahun ini.

Selain menuntut reformasi monarki, para demonstran juga meminta penghapusan undang-undang pencemaran nama baik kerajaan. Massa menganggap undang-undang tersebut sebagai aturan yang kejam.

Meski demikian, para pengunjuk rasa kini telah bubar. Mereka bubar pada pukul 20.30 waktu setempat.

Tuntutan mereka yang paling kontroversial adalah reformasi monarki, termasuk penghapusan undang-undang pencemaran nama baik kerajaan yang kejam.

Bentrokan antara polisi dan demonstran bukan kali ini terjadi. Pada Juli 2020 lalu, bentrokan terjadi saat massa menyerukan perombakan pemerintahan Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha.

(man/lir)