Disetujui Biden, AS Serang Fasilitas Pasukan Pro-Iran di Suriah

Syahidah Izzata Sabiila - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 10:20 WIB
Media milik pemerintah Korea Utara melaporkan, Senin (30/3), Korea Utara sukses melakukan uji coba peluncuran roket-roket terbaru sehari lalu.
Ilustrasi (Foto: AP)
Washington DC -

Militer Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas milik kelompok bersenjata yang didukung Iran di Suriah Timur pada Kamis (25/2). Hal ini dilakukan merespon serangan roket di pangkalan militer AS di Irak beberapa waktu lalu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (26/2/2021), ini merupakan serangan pertama militer AS ke kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran sejak Joe Biden menjadi presiden. Departemen Pertahanan AS mengatakan telah melakukan serangan udara di titik kontrol perbatasan Suriah-Irak yang digunakan oleh kelompok-kelompok itu, menghancurkan "banyak fasilitas".

"Atas arahan Presiden Biden, pasukan militer AS malam ini melakukan serangan udara terhadap infrastruktur yang digunakan oleh kelompok militan yang didukung Iran di Suriah timur," kata juru bicara Departemen Pertahanan AS, John Kirby dalam sebuah pernyataan.

"Serangan ini dilakukan sebagai tanggapan atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan Amerika dan Koalisi di Irak, dan terhadap ancaman yang sedang berlangsung terhadap personel itu," katanya.

Kirby tidak menyebutkan korban akibat serangan militer AS. Namun Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan 17 orang tewas setelah serangan itu menghantam tiga truk berisi amunisi yang datang dari Irak ke Suriah.

Disebutkan semua korban tewas adalah pasukan Hashed al-Shaabi yang didukung Irak.

Kirby mengatakan lokasi itu digunakan oleh Kataeb Hezbollah dan Kataeb Sayyid al-Shuhada, dua kelompok bersenjata Syiah Irak di bawah Hashed al-Shaabi.

Pembalasan AS

Tindakan pembalasan AS dilakukan menyusul tiga serangan roket terhadap fasilitas di Irak yang digunakan oleh Amerika Serikat dan pasukan koalisi yang memerangi kelompok ISIS.

Salah satu serangan roket menghantam pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Kurdi di Irak Utara pada Senin (15/2) waktu setempat. Akibat serangan itu, seorang kontraktor sipil tewas dan lima orang lainnya termasuk seorang personel militer AS, luka-luka.

Serangan di Irak menjadi tantangan bagi pemerintahan Biden yang baru, tepat ketika pemerintah itu membuka pintu untuk melanjutkan negosiasi dengan Teheran soal program senjata nuklirnya.

Simak juga video 'Menanti Laporan Intelijen AS soal Kematian Jamal Khashoggi':

[Gambas:Video 20detik]



Pekan lalu, pemerintah menawarkan pembicaraan dengan Iran yang dipimpin oleh sekutu Eropa ketika berusaha menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015, yang berada di ambang kehancuran setelah pemerintah sebelumnya Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan.

Pemerintah AS juga menjelaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan "aktivitas jahat" di kawasan itu oleh Iran.

Iran diyakini sedang mencari peluang untuk membalas pembunuhan jenderal tertinggi AS Qasem Soleimani satu tahun lalu.

Soleimani, seorang perwira senior di Korps Pengawal Revolusi Iran, adalah penghubung utama Teheran dengan kelompok dan tokoh sekutu di Irak, Suriah, Lebanon, dan tempat lain di wilayah tersebut. Dia tewas dalam serangan pesawat tak berawak AS tepat ketika dia tiba di Baghdad untuk pertemuan dengan pejabat tinggi Irak.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan Senin (22/2) bahwa AS akan "meminta pertanggungjawaban Iran atas tindakan proksi yang menyerang Amerika" tetapi tidak akan "menyerang" dan berisiko membuat Irak tidak stabil.

Kirby menyebut serangan Kamis (25/2) itu "proporsional" dan mengatakan itu "dilakukan bersama dengan langkah-langkah diplomatik," termasuk konsultasi dengan mitra AS dalam koalisi anti-ISIS.

"Operasi itu mengirimkan pesan yang jelas: Presiden Biden akan bertindak untuk melindungi personel Amerika dan Koalisi," katanya.

"Pada saat yang sama, kami telah bertindak dengan cara yang disengaja yang bertujuan untuk menurunkan situasi baik di Suriah timur maupun Irak," tambahnya

(izt/imk)