Keluarga Korban Gugat Arab Saudi terkait Penembakan di Pangkalan AS

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 13:56 WIB
Ilustrasi sidang (Reuters)
Ilustrasi (dok. Reuters)
Florida -

Keluarga dari tiga tentara Amerika Serikat (AS) yang tewas dalam penembakan di pangkalan militer di Florida tahun 2019 menggugat Arab Saudi ke pengadilan. Mereka mengklaim pemerintah Saudi mengetahui radikalisasi dan keterkaitan pelaku penembakan yang personel militer Saudi, dengan Al-Qaeda.

Seperti dilansir AFP, Senin (23/2/2021), tiga tentara AS tewas ditembak dan 13 orang lainnya luka-luka dalam serangan penembakan di fasilitas pelatihan untuk militer asing di Pangkalan Udara Angkatan Laut Pensacola di Florida, AS, pada 6 Desember 2019.

Pelaku merupakan seorang personel Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi bernama Mohammed Alshamrani yang menjadi siswa penerbangan di fasilitas tersebut. Alshamrani tewas usai melakukan penembakan yang mengguncangkan publik AS pada saat itu.

Otoritas kehakiman AS menyebut pelaku merencanakan serangan itu selama bertahun-tahun, menunjukkan ideologi jihadis dan menghubungi anggota Al-Qaeda via telepon selular terenkripsi. Menurut Biro Penyelidikan Federal (FBI), Alshamrani berkomunikasi dengan Al-Qaeda pada malam hari sebelum dia beraksi.

Dalam gugatan hukum yang diajukan ke pengadilan federal di Pensacola ini, keluarga korban tewas dan korban luka menuduh bahwa kolega Alshamrani dan pemerintah Saudi mengetahui pandangan jihadis dan anti-Amerika yang dipegangnya.

Disebutkan gugatan itu, bahwa pandangan tersebut 'secara publik dikaitkan dengan akun Twitter yang mencantumkan namanya' bahkan sebelum dia bergabung dengan Angkatan Udara Saudi. Akun media sosial Alshamrani juga disebut di-follow dan dikomentari oleh pejabat pemerintah Saudi dan kolega Angkatan Udara Saudi.

"Sepanjang pengabdian Alshamrani dengan Angkatan Udara Kerajaan Saudi, Alshamrani secara rutin memposting ideologi fundamental radikal pada akun media sosialnya, termasuk ideologi anti-Amerika dan anti-Yahudi, dan mendorong orang lain untuk memposting sentimen Islam radikal," demikian penggalan argumen dalam dokumen gugatan itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2