Bom Rakitan Ditemukan di Rumah Proud Boys, Kelompok Rusuh di Gedung Capitol AS

Ilman Nafian - detikNews
Minggu, 31 Jan 2021 04:58 WIB
WASHINGTON, DC - JANUARY 06: Protesters gather on the U.S. Capitol Building on January 06, 2021 in Washington, DC. Pro-Trump protesters entered the U.S. Capitol building after mass demonstrations in the nations capital during a joint session Congress to ratify President-elect Joe Bidens 306-232 Electoral College win over President Donald Trump.   Tasos Katopodis/Getty Images/AFP
Kerusuhan di Capitol AS beberapa waktu lalu (Foto: AFP/TASOS KATOPODIS)
New York -

Aparat penegak hukum Amerika Serikat (AS) menemukan bom rakitan di salah satu anggota kelompok ekstrimis sayap kanan, Proud Boys bernama Dominic Pezzola (43). Rumah tersebut berada di Rochester, New York.

Dilansir dari Reuters, Minggu (31/1/2021), senjata api rakitan juga ditemukan di sekitar rumah Pezzola. Jaksa yang menerima barang bukti itu meminta Pezzola untuk ditahan sambil menunggu vonis hakim.

Tercatat, ada ratusan orang ditangkap dalam kerusuhan yang terjadi di gedung Capitol yang dilakukan oleh para pendukung Donald Trump. Dalam peristiwa itu, 5 orang tewas dan salah satunya polisi.

Pezzola bersama anggota Proud Boys lainnya, William Pepe (31) didakwa dengan tuduhan melakukan konspirasi dan secara tidak sah masuk ke dalam kawasan terlarang. Mereka juga didakwa telah melakukan kekacauan di muka umum.

Selain itu, Pezzola didakwa telah menghalangi proses penyidikan, merampok, menyerang petugas.

Sebelumnya, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan adanya ancaman terorisme nasional pada Rabu (27/1) waktu setempat. Peringatan ini dikeluarkan setelah munculnya potensi ancaman dari ekstremis antipemerintah yang menentang Joe Biden sebagai presiden.

Dilansir AFP, Kamis (28/1), dalam peringatan itu disebut para ekstremis dapat melakukan serangan terhadap pejabat-pejabat terpilih dan fasilitas pemerintah, seperti yang terjadi pada serangan 6 Januari lalu di gedung Capitol AS oleh para pendukung mantan presiden Donald Trump.

Peringatan ini disampaikan setelah sebelumnya pihak berwenang di California mendakwa seorang pendukung Trump atas kepemilikan lima bom pipa rakitan. Pendukung Trump itu diduga akan melakukan penyerangan terhadap para pejabat terpilih AS.

Dalam Buletin Sistem Penasihat Terorisme Nasional (NTAS), disebutkan bahwa ancaman serangan ini dapat bertahan selama beberapa minggu, setelah pelantikan Biden pada 20 Januari dan ketika Trump menghadapi persidangan pemakzulan di Senat atas "hasutan pemberontakan" karena diduga mendorong serangan terhadap gedung Capitol AS.

"Informasi ini menunjukkan bahwa beberapa ekstremis yang keberatan terhadap pelaksanaan otoritas pemerintah dan transisi presiden, serta keluhan yang dipicu oleh narasi palsu, dapat terus bergerak untuk menghasut atau melakukan kekerasan," kata Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).

"DHS tidak memiliki informasi untuk menunjukkan secara spesifik dan kredibel," imbuhnya.

"Namun, kerusuhan dengan kekerasan terus berlanjut dalam beberapa hari terakhir dan kami merasa prihatin bahwa mereka yang frustrasi dengan pelaksanaan otoritas pemerintah dan transisi presiden dapat terus memobilisasi untuk menghasut atau melakukan kekerasan," demikian disampaikan DHS.

(man/man)