Round-Up

Rumor Vaksin Corona untuk Bunuh Warga di Filipina

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 22:14 WIB
Pembuat vaksin asal China, Sinovac Biotech, berencana memulai uji coba klinis vaksin virus Corona eksperimental terhadap anak-anak dan remaja pada akhir bulan ini.
Foto: Ilustrasi vaksin Corona (Getty Images/Lintao Zhang)
Jakarta -

Beredar rumor liar yang mempersulit proses vaksinasi Corona di Filipina. Ada rumor yang menyebut Presiden Filipina Rodrigo Duterte bisa membunuh warganya melalui microchip dalam vaksin.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (28/1/2021), otoritas Filipina akan memulai vaksinasi Corona bulan depan, saat lebih dari setengah juta orang telah terinfeksi dan lebih dari 10 ribu orang tewas akibat virus ini. Namun, para pejabat setempat mengakui harus berjuang keras untuk membujuk banyak orang menerima vaksin Corona.

Perjuangan keras untuk membujuk warga ini menambah sulit tantangan logistik di mana otoritas setempat harus mendistribusikan vaksin Corona ke sedikitnya 2.000 pulau berpenghuni dengan sistem kesehatan tidak menentu.

"Pesannya harus sangat konkret dan berdasarkan bukti untuk mendorong orang-orang menerima vaksin," tutur Wakil Menteri Kesehatan, Rosario Vergerire, kepada Reuters.

"Kami meyakinkan warga Filipina bahwa vaksin apapun yang akan didistribusikan dan diberikan akan melalui proses regulasi yang ketat," imbuhnya.

Kendati demikian, tetap muncul rumor-rumor liar dan kekhawatiran warga soal keamanan vaksin memberikan tantangan tersendiri untuk pelaksanaan vaksinasi.

Salah satu rumor liar beredar di wilayah Filipina bagian selatan, yang menyebut vaksinasi Corona akan menjadi kampanye kematian yang disponsori negara. Rumor ini beredar di tengah kekhawatiran publik soal perang narkoba yang digaungkan Duterte yang telah menewaskan nyaris 6 ribu orang sejak dia menjabat tahun 2016.

Wilayah Filipina bagian selatan yang terpencil juga diketahui marak dengan pemberontakan komunis dan militansi Islamis.

"Beberapa informasi yang dibagikan di Facebook dan pesan singkat mengatakan bahwa vaksin COVD-19 mengandung microchip yang bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh Presiden Duterte, dan begitu dia menekan tombol, orang yang menerima vaksin itu akan mati," tutur Nasser Alimado yang seorang dokter pemerintah di Provinsi Lanao del Sur.

Selain rumor liar, trauma publik Filipina pada vaksin demam berdarah yang kini dilarang secara lokal juga turut menambah ketakutan warga pada vaksin Corona. Vaksin demam berdarah Dengvaxia buatan perusahaan Prancis, Sanofi, yang disuntikkan kepada ratusan ribu anak tahun 2016 lalu, akhirnya dilarang setelah produsennya mengakui vaksin itu memperburuk penyakit pada orang-orang yang belum pernah tertular.

"Banyak anak jatuh sakit setelah menerima vaksin itu," tutur warga setempat, Crisanta Alipio (62), merujuk pada vaksin demam berdarah tersebut. Lebih lanjut, Alipio mengakui dia takut pada virus Corona tapi jauh lebih takut divaksin.

Selanjutnya
Halaman
1 2