Kanada Akan Larang Plastik Sekali Pakai dan Sedotan Pada Akhir 2021

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 08 Okt 2020 04:54 WIB
The concept of recycling. A male hand in a jacket transfers money to the other hand in exchange for a garbage bag.
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/urfinguss)
Ottawa -

Kementerian Lingkungan Kanada akan melarang penggunaan kantong plastik, sedotan dan empat barang plastik sekali pakai lainnya pada akhir 2021. Aturan ini akan mengikuti kebijakan di Eropa dalam upaya daur ulang.

Dilansir AFP, Kamis (8/10/2020) larangan juga berlaku untuk sendok pengaduk, alat makan, dan peralatan makanan yang terbuat dari plastik yang sulit didaur ulang adalah bagian dari rencana bebas limbah plastik pada tahun 2023. Kebijakan ini juga menjadi agenda iklim dan lingkungan Perdana Menteri, Justin Trudeau.

Namun Menteri Lingkungan, Jonathan Wilkinson mengakui,"Kami tidak memimpin dunia dalam hal ini,".

"Banyak negara di Eropa, termasuk Inggris Raya, telah menerapkan kebijakan ini dan kami tentunya telah belajar dari hal yang telah mereka lakukan," kata Wilkinson dalam jumpa pers.

Menurut Ottawa, penduduk Kanada membuang tiga juta ton sampah plastik setiap tahunnya-termasuk 15 miliar kantong setiap tahun, dan 57 juta sedotan setiap hari. Hanya 9% saja yang bisa didaur ulang.

Wilkinson mengatakan Kanada menargetkan penggunaan sampah plastik ini bisa didaur ulang hingga 90%. Sejalan dengan target Eropa pada tahun 2029.

Dia mengatakan dari enam barang plastik yang akan dilarang, sudah ada "alternatif yang sudah tersedia dan terjangkau,".

"Ada banyak (plastik) yang harus terus digunakan sekali. Tapi itu harus jenis yang dapat kita daur ulang, yang dapat kita pertahankan dalam perekonomian. Dan tidak berakhir di lingkungan yang menimbulkan masalah," tambahnya.

Tutup plastik pada cangkir kopi menjadi sampah plastik yang paling banyak di tempat pembuangan sampah kota. Wilkinson mengatakan dia akan berusaha memperbaikinya.

Ottawa juga mengusulkan untuk menetapkan persyaratan konten daur ulang dam produk dan kemasan. Dia berharap dapat meningkatkan daur ulang dan mengundang desain produk yang lebih baik dan bisa lebih lama digunakan.

"Ini bisa mencangkup persyaratan minimum konten daur ulang dalam produk baru dan tanggung jawab yang lebih besar bagi produsen dan penjual untuk mengumpulkan dan mendaur ulang," tuturnya.

(lir/lir)