detikNews
Sabtu 14 September 2019, 17:51 WIB

Bunuh Politikus, 2 Pria Rohingya Ditembak Mati Polisi Bangladesh

Novi Christiastuti - detikNews
Bunuh Politikus, 2 Pria Rohingya Ditembak Mati Polisi Bangladesh Ilustrasi (AFP Photo/Joshua Lott)
Dhaka - Dua lagi pria Rohingya tewas usai ditembak oleh polisi Bangladesh di wilayah perbatasan dengan Myanmar. Penembakan ini masih terkait dengan kasus pembunuhan politikus Bangladesh.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (14/9/2019), Kepolisian Bangladesh menyebut dua pria Rohingya itu merupakan tersangka dalam kasus pembunuhan pejabat sayap pemuda Partai Liga Awami, Omar Faruk. Akhir bulan lalu, Faruk tewas ditembak di bagian kepala oleh sekelompok geng kriminal Rohingya.

Diketahui bahwa nyaris satu juta pengungsi Rohingya tinggal di kamp-kamp jorok di Bangladesh bagian tenggara. Dari jumlah itu, sebanyak 740 ribu pengungsi Rohingya menyelamatkan diri dari operasi militer Myanmar yang sarat kekerasan di Rakhine tahun 2017 lalu.


Dituturkan Kepala Kepolisian Distrik Cox's Bazar, Masud Hossain, kepada AFP bahwa kedua pria Rohingya itu mengalami luka parah dalam baku tembak dengan polisi di dekat kota Teknaf, Cox's Bazar, pada Jumat (13/9) pagi waktu setempat. Keduanya dinyatakan tewas saat dibawa ke rumah sakit setempat.

"Mereka adalah penjahat Rohingya. Mereka terlibat dalam perampokan, penculikan dan penyelundupan narkoba," ucap Masud.

Ditambahkan dia bahwa kedua pria Rohingya, yang identitasnya tidak diungkap ini, merupakan 'tersangka dalam kasus' pembunuhan Faruk.

Dengan tewasnya kedua tersangka ini, berarti sejauh ini sudah enam tersangka yang tewas usai terlibat baku tembak dengan Kepolisian Bangladesh. Seluruh tersangka merupakan warga Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh.

Sementara secara keseluruhan, total 36 pengungsi Rohingya tewas di tangan aparat Bangladesh dalam berbagai insiden sejak Agustus 2017.

Kelompok-kelompok HAM sebelumnya menuduh polisi Bangladesh melakukan pembunuhan di luar hukum terhadap para pengungsi Rohingya, khususnya yang dicurigai menyelundupkan narkoba. Kelompok-kelompok HAM mencurigai beberapa baku tembak tampak seperti direkayasa.


(nvc/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com