Salman Abedi Menelepon Adiknya di Libya Sebelum Meledakkan Diri

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 27 Mei 2017 13:08 WIB
Hashem Abedi (Libya Deterrence Force)
London - Otoritas Inggris masih berusaha membongkar jaringan di balik bom bunuh diri di Manchester Arena, lokasi konser Ariana Grande. Pelaku pengeboman, Salman Abedi, terungkap sempat berbicara dengan adiknya, Hashem, sesaat sebelum meledakkan diri.

"Kami terus memburu jaringannya, membekuk mereka, berusaha melumpuhkan mereka. Seperti Anda lihat dari jumlah orang yang ditangkap, kami berada di jalur yang benar untuk berusaha melumpuhkannya," terang Menteri Keamanan Inggris, Ben Wallace, kepada CNN, Sabtu (27/5/2017).

"Pada akhirnya, Anda mendapatkan akar jaringan ini," imbuhnya.

Baca juga: Pengebom Bunuh Diri di Konser Ariana Grande Pernah Dilatih ISIS

Inggris terus memburu orang-orang yang diyakini terkait bom Manchester. Mereka khawatir ada rencana teror lain yang tengah disusun jaringan di balik teror bom itu. Pada Jumat (26/5) waktu setempat, polisi kembali menangkap seorang pria di kawasan Rusholme di Manchester, terkait bom itu.

Sejauh ini, sudah 11 orang yang ditangkap kepolisian Inggris terkait bom Manchester. Namun dua orang di antaranya, seorang wanita berusia 34 tahun dan seorang remaja laki-laki berusia 16 tahun, dibebaskan tanpa dakwaan. Penyelidikan terhadap 9 orang yang ditahan masih berlanjut.

Salman AbediSalman Abedi Foto: BBC

Di Libya, negara asal orangtua Abedi (22), juga terjadi penangkapan. Ayah dan adik laki-laki Abedi, Ramadan dan Hashem, ditangkap otoritas Libya pekan ini. Hashem yang berusia 20 tahun, disebut telah mengetahui rencana teror yang disusun kakaknya.

Juru bicara Special Deterrence Force di Tripoli, Ahmed Ben Salem, menyatakan kakak beradik itu sempat berbicara via telepon sekitar 15 menit sebelum bom bunuh diri mengguncang Manchester Arena. Topik percakapan telepon itu tidak diketahui pasti.

Baca juga: Salman Abedi Ingin Balas Dendam Atas Kematian Temannya

Kepada otoritas Libya, Hashem mengaku tahu rencana jahat kakanya, namun dia mengklaim tidak tahu secara rinci soal lokasi dan waktu serangan bom yang direncanakan kakaknya. Hashem sendiri ditangkap di Libya karena dicurigai terkait ISIS.

Otoritas Libya menyebut, Hashem mengaku dirinya dan kakaknya merupakan anggota ISIS. Bahkan dilaporkan Hashem sempat berada di Manchester saat kakaknya merencanakan teror bom. Diyakini, Abedi merencanakan serangan bom selama berada di Manchester sejak akhir tahun 2016.

Dituturkan Ben Salem, bahwa Abedi sempat mendatangi Libya pada 19 April dan pergi ke luar negara itu pada 17 Mei. Saat itu, Abedi mengaku kepada keluarganya akan pergi umroh ke Arab Saudi. Namun ternyata dia berbohong dan malah kembali ke Inggris. Hanya Hashem yang mengetahui kembalinya Abedi ke Inggris.

Baca juga: 22 Korban Tewas Bom Konser Ariana Grande Telah Teridentifikasi

Usut punya usut, pihak keluarga meminta Abedi untuk tinggal di Libya dan tidak kembali ke Manchester. Sang ayah bahkan menyita paspor Abedi agar dia tidak kembali ke Inggris. Namun Abedi memperdaya ayahnya dengan bilang akan umroh agar paspornya dikembalikan.

(nvc/try)