Paus Fransiskus: Serangan Kimia Suriah Pembantaian Warga Sipil

Paus Fransiskus: Serangan Kimia Suriah Pembantaian Warga Sipil

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 05 Apr 2017 18:21 WIB
Paus Fransiskus: Serangan Kimia Suriah Pembantaian Warga Sipil
Paus Fransiskus (Agencja Gazeta/Slawomir Kaminski/via REUTERS)
Vatican City - Paus Fransiskus merasa ngeri atas serangan kimia di Suriah yang menewaskan 72 orang, termasuk 20 anak-anak. Paus menyebut serangan kimia itu sebagai pembantaian warga sipil tak berdosa yang tidak bisa diterima.

Negara-negara Barat termasuk Amerika Serikat (AS) menyalahkan pasukan rezim Suriah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan kimia di kota Khan Sheikhun, Suriah bagian utara itu. Namun militer Suriah telah membantahnya.


"Kami melihat dengan ngeri peristiwa baru-baru ini di Suriah," ucap Paus Fransiskus di hadapan puluhan ribu jemaatnya di Alun-alun St Peter, Vatikan seperti dilansir Reuters, Rabu (5/4/2017). Hal ini disampaikan Paus dalam khotbah mingguannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Serangan Rezim Suriah Kenai Gudang Senjata Kimia Pemberontak

"Sangat menyayangkan pembantaian yang tidak bisa diterima yang terjadi kemarin (4/4)," kata Paus.

Lebih lanjut, Paus Fransiskus mendoakan para korban serangan kimia itu. "Korban yang tidak berdaya, termasuk banyak anak-anak," sebutnya.

Paus pun mengharapkan hati nurani orang-orang yang memegang kekuasaan politik, baik tingkat lokal maupun internasional agar tragedi seperti ini berakhir.

Baca juga: Pemberontak Suriah Bantah Klaim Rusia Soal Gudang Senjata Kimia

Serangan kimia di kota Khan Sheikhun memicu kecaman dunia internasional. AS, Prancis dan Inggris telah mengajukan draf resolusi pada Dewan Keamanan PBB, yang isinya meminta penyelidikan menyeluruh atas serangan gas beracun tersebut.

Rusia yang merupakan sekutu rezim Presiden Bashar al-Assad mengklaim gas beracun itu merupakan dampak dari gudang senjata kimia milik kelompok pemberontak, yang terkena serangan udara rezim Suriah. Namun komandan pemberontak setempat membantah klaim itu dan menyebut Rusia berbohong.

(nvc/ita)


Berita Terkait