×
Ad

Asia Tenggara Lirik Energi Nuklir, Bagaimana Indonesia?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 23 Sep 2026 14:06 WIB
Jakarta -

Pemerintah negara-negara Asia Tenggara kembali mempertimbangkan energi nuklir di tengah meningkatnya konsumsi listrik yang memperlihatkan ketergantungan kawasan tersebut terhadap bahan bakar fosil.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pembangunan pabrik baru, kendaraan listrik, serta ambisi negara-negara di kawasan ini untuk menjadi pusat data center, di tengah upaya menurunkan emisi karbon.

Saat ini, belum ada negara di Asia Tenggara yang mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) komersial. Namun, sejumlah negara mulai bertaruh pada energi nuklir dan menghidupkan kembali rencana yang sempat terhenti selama bertahun-tahun.

Pada 8 September, perusahaan energi milik negara Vietnam, Petrovietnam, dan perusahaan Korea Selatan, KEPCO, sepakat untuk memperdalam kerja sama dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Ninh Thuan 2 di Vietnam. Enam hari kemudian, pemerintah Singapura mengatakan sedang mengkaji energi nuklir dan reaktor modular kecil (SMR) dengan "pikiran terbuka", meski menegaskan belum mengambil keputusan.

Vietnam ingin mengoperasikan dua PLTN Ninh Thuan pada 2035 dan mengembangkan sedikitnya satu proyek SMR.

Indonesia berencana membangun kapasitas nuklir awal sebesar 500 megawatt, dengan unit pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2032. Sementara itu, Filipina menargetkan kapasitas nuklir pertamanya sebesar 1.200 MW mulai tahun yang sama.

Rancangan terbaru rencana ketenagalistrikan Thailand mengusulkan pembangunan SMR pertama pada 2037. Sementara Malaysia dan Singapura masih berada pada tahap kajian.

Guncangan energi vs. bayang-bayang Fukushima

Minat baru terhadap energi nuklir menandai perubahan tajam dari sikap hati-hati yang muncul setelah bencana nuklir Fukushima di Jepang pada 2011.

Kecelakaan tersebut membuat rencana sejumlah negara Asia Tenggara untuk mengembangkan energi nuklir terhenti, kata Alvin Chew, peneliti senior di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura, kepada DW.

Namun, serangkaian guncangan geopolitik dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah perdebatan mengenai energi.




(ita/ita)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork