Gelombang Panas Surutkan Kapasitas Energi Nuklir di Eropa

Gelombang Panas Surutkan Kapasitas Energi Nuklir di Eropa

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 07 Agu 2026 10:31 WIB
Gelombang Panas Surutkan Kapasitas Energi Nuklir di Eropa
Jakarta -

Di tepi Sungai Donau yang mengering didera gelombang panas, keyakinan tentang kemandirian energi melalui teknologi nuklir mendadak rapuh.

Di Paks, Hungaria, pembangkit listrik tenaga nuklir yang biasanya memenuhi hampir separuh kebutuhan listrik negeri itu kini hanya mengandalkan satu dari empat unit turbin. Ketika Donau mencapai titik terendahnya, ancaman bukan lagi sekadar berkurangnya debit air, melainkan kemungkinan berhentinya seluruh denyut pembangkit.

Tetapi kisah ini tak berhenti di Hungaria. Di Eropa, pusat gravitasi energi nuklir berada di jantung benua. Selain Prancis, hampir tidak ada negara lain yang begitu menggantungkan pasokan listriknya pada energi nuklir. Maka ketika reaktor-reaktor Prancis mengurangi daya, yang berubah bukan hanya angka-angka produksi, melainkan juga arah aliran listrik di jantung Eropa. Negara yang biasanya menjadi memasok listrik kepada jirannya itu dapat sewaktu-waktu berbalik menjadi pembeli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Produksi listrik menurun

Sekilas, catatan penurunan kapasitas PLTN Prancis tampak paradoks. Jika dihitung sepanjang tahun, kehilangan produksi akibat gelombang panas tergolong kecil. Namun, dalam beberapa pekan ketika suhu melonjak, pembatasan produksi bisa sangat signifikan.

Laporan Mahkamah Audit Prancis mengenai energi nuklir (2023) memperkirakan bahwa sepanjang periode 2000–2022, kehilangan produksi tahunan di armada reaktor akibat tingginya suhu air dan rendahnya debit sungai hampir selalu berada di bawah satu persen dari total produksi listrik nuklir tahunan. Bahkan pada musim panas ekstrem 2003, penurunannya hanya sekitar 1,5 persen.

Risiko bersifat lokal

Namun, data tahunan itu menutupi lonjakan yang terjadi dalam jangka pendek. Pada musim panas 2003, PLTN Prancis sempat memangkas kapasitas lebih dari enam gigawatt. Skala serupa kembali terjadi pada gelombang panas akhir Juni dan pertengahan Juli 2026.

Pada periode itu, kapasitas maksimum yang tersedia sementara berkurang sekitar delapan hingga sembilan gigawatt. Artinya, pada saat-saat tertentu, hingga seperlima kapasitas listrik nuklir yang biasanya tersedia di Prancis selama musim panas tidak dapat dimanfaatkan.

Meski demikian, berkurangnya delapan gigawatt kapasitas yang tersedia tidak otomatis berarti delapan gigawatt produksi listrik benar-benar hilang selama berhari-hari. Sebagian reaktor memang tidak akan beroperasi pada kapasitas penuh meskipun tidak terjadi air surut, karena permintaan listrik pada musim panas lebih rendah, produksi listrik tenaga surya meningkat, atau terdapat kendala pada jaringan listrik.

Menurut operator jaringan listrik, selama gelombang panas 2026 Prancis tetap memiliki cadangan daya yang memadai dan secara keseluruhan masih menjadi pengekspor listrik.

Dampaknya terasa di luar negeri

Meski begitu, pembatasan semacam ini tetap penting bagi operator jaringan dan para pedagang listrik. Yang menjadi perhatian mereka bukanlah total produksi listrik PLTN dalam setahun, melainkan apakah kapasitas itu tersedia ketika benar-benar dibutuhkan.

Pengalaman menunjukkan bahwa gelombang panas meningkatkan kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan. Karena tahun ini gelombang panas melanda sebagian besar wilayah Eropa, cadangan listrik yang dapat diperoleh dari negara lain pun ikut menyusut.

Sungai makin hangat

PLTN sangat terdampak oleh rendahnya debit air karena pembangkit jenis ini harus membuang panas sisa dalam jumlah besar untuk setiap kilowatt-jam listrik yang dihasilkan. Hanya sekitar sepertiga panas yang dihasilkan di dalam reaktor diubah menjadi listrik. Sisanya dilepas ke lingkungan melalui sistem pendingin, biasanya ke sungai atau laut.

Ketika debit sungai rendah, panas buangan tersebut tersebar ke volume air yang lebih sedikit sehingga suhu perairan meningkat lebih cepat.

Karena air yang lebih hangat mengandung lebih sedikit oksigen, batas suhu yang ditetapkan dalam peraturan dimaksudkan untuk melindungi ikan dan organisme air lainnya. Karena itu, jika operator mengurangi kapasitas reaktor pada musim panas, langkah tersebut umumnya bukan penghentian darurat demi keselamatan reaktor, melainkan upaya melindungi lingkungan.

Batas Suhu dan Menara Pendingin

Dalam kondisi pasokan listrik yang kritis, otoritas Prancis terkadang memberikan pengecualian sementara terhadap batas suhu tersebut. Dalam situasi seperti itu, kondisi perairan dipantau lebih ketat. Kebijakan ini memungkinkan perusahaan listrik negara EdF memproduksi listrik tambahan untuk sementara waktu.

PLTN yang menggunakan menara pendingin mengambil air sungai jauh lebih sedikit dan membuang panas langsung ke perairan dalam jumlah yang jauh lebih kecil dibandingkan pembangkit dengan sistem pendinginan terbuka.

Namun, menara pendingin tidak membuat PLTN sepenuhnya kebal terhadap cuaca, sebagaimana terlihat di pembangkit Golfech. PLTN ini berada di tepi Sungai Garonne, yang pada musim panas kerap bersuhu tinggi dan berdebit rendah, sehingga tetap menjadi salah satu lokasi yang paling rentan.

Di Chooz, di tepi Sungai Maas, reaktor juga harus mengurangi kapasitas pada 2020 meskipun memiliki menara pendingin, agar pasokan air minum di Belgia tidak terganggu.

Perbaikan menekan produksi

Tidak semua penurunan produksi listrik nuklir dapat dijelaskan oleh faktor cuaca. Empat tahun lalu, reaktor-reaktor Prancis menghasilkan hampir 82 terawatt-jam listrik lebih sedikit dibandingkan 2021.

Penyebab utama krisis yang banyak menghiasi pemberitaan itu bukanlah perubahan iklim, melainkan korosi retak akibat tegangan (stress corrosion cracking) serta tertundanya pekerjaan pemeliharaan di armada PLTN Prancis.

Ke depan, para ahli dari Mahkamah Audit memperkirakan bahwa hingga 2050 ketidaktersediaan reaktor akibat perubahan iklim dapat meningkat tiga hingga bahkan empat kali lipat. Meski berangkat dari tingkat yang masih rendah sehingga belum akan memicu kegagalan operasi secara menyeluruh, bagi sejumlah lokasi kondisi itu dapat menjadi sangat kritis.

Modernisasi PLTN

Prancis setidaknya dapat mengurangi dampak perkembangan tersebut melalui pembangunan menara pendingin tambahan, konstruksi pengambilan air yang lebih dalam, serta perencanaan pemeliharaan yang lebih baik.

Namun, membuat armada PLTN lebih tahan terhadap suhu tinggi memerlukan biaya besar dan lahan yang lebih luas.

Dalam program modernisasi PLTN yang sedang disiapkan, Prancis berencana memperhitungkan dampak perubahan iklim. Empat dari enam reaktor modern EPR2 yang pertama direncanakan dibangun di wilayah pesisir, yakni di Penly dan Gravelines. Hanya pasangan reaktor ketiga yang akan dibangun di tepi Sungai Rhne, di Bugey. Menara pendingin akan digunakan untuk membatasi beban panas pada sungai sekaligus mengurangi pengambilan air.

Konsekuensi bagi negara lain

Dampak pengurangan kapasitas reaktor Prancis terlihat jelas dalam perdagangan listrik Eropa. Pada 24 Juni, sekitar 4,1 gigawatt kapasitas listrik nuklir Prancis dibatasi akibat tingginya suhu sungai. Akibatnya, ekspor listrik Prancis turun menjadi sekitar tiga gigawatt, setelah pada pekan sebelumnya negara itu masih memasok 10 hingga 12 gigawatt ke negara-negara tetangga.

Bersama meningkatnya konsumsi listrik, lemahnya produksi listrik tenaga angin, serta penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar gas yang lebih besar, kondisi tersebut ikut mendorong harga listrik di Prancis dan Jerman melonjak ke tingkat tertinggi sejak Januari 2025.

Pada gelombang panas berikutnya pada Juli, pembatasan terhadap reaktor bahkan lebih besar, tetapi dampaknya terhadap negara lain lebih kecil. Pada 13 Juli, delapan reaktor dengan total kapasitas 6,3 gigawatt terdampak, dan dua di antaranya dihentikan sepenuhnya dari jaringan.

Meski demikian, Prancis tetap mengekspor lebih dari 10 gigawatt listrik dan hanya sesekali mengimpor listrik tenaga surya serta angin yang lebih murah dari Spanyol.

Untuk saat ini, pengurangan kapasitas PLTN akibat gelombang panas tampaknya masih menjadi persoalan yang dapat dikelola oleh Prancis. Apakah kondisi tersebut kelak berkembang menjadi hambatan bagi sistem kelistrikan Eropa akan sangat bergantung pada perkembangan permintaan listrik dari negara-negara lain, serta ketersediaan cadangan listrik dari tenaga angin dan surya

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Ayu Purwaningsih

(ita/ita)


Berita Terkait